Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Medan Bisnis, 25 November 2015
Tanggal 25 November
merupakan momentum bahagia bagi guru-guru di tanah air, sebab pada tanggal itu
diperingati sebagai Hari Guru. Setiap kali kita memperingati hari guru, batin
kita senantiasa diajak melongok kembali relung-relung kelam dan dinamika dunia
keguruan. Esei ini hanyalah sekedar pemaparan relung-relung kelabu kondisi
objektif dunia keguruan yang tak pernah tersintesa oleh perkembangan sejarah
peradaban bangsa yang besar ini.
Menurut hemat
penulis, permasalahan pendidikan khususnya dunia keguruan di negeri ini,
bukanlah persoalan yang menyangkut kualitas dan penghargaan terhadap guru
semata. Tetapi masalah tenaga kependidikan (guru) adalah persoalan serius
komitmen sebuah bangsa yang bernama Indonesia dalam mendudukkan profesi guru
secara proporsional dan profesional. Sebuah bangsa besar yang telah
dicatat oleh tinta kelam sejarah dalam memposisikan profesi guru penuh hipokrisi
(kemunafikan). Tidak saja kemunafikan dalam mendudukkan aspek eksistensial dan
finansial guru, tetapi juga kemunafikan dalam dimensi visi, populis dan respek
terhadap dunia keguruan itu sendiri.
Hipokrisi ini
terjadi akibat pengkondisian kultural masyarakat dalam menyikapi dan
memandang profesi guru secara marjinal. Bukan saja dalam tataran opini massa
tetapi juga di alam realita dan idiom-idiom populis kekinian. Opini
publik yang terbentuk cenderung menganggap profesi guru sebagai profesi yang miskin
prestisius (gengsi). Akibatnya, guru hanya dihargai sebatas manisnya sloganisme
dan indahnya sebuah retorika belaka.
Cobalah bertanya
pada putra-putri kita yang saat ini duduk di bangku TK atau SD,: kalau sudah
besar nanti mau jadi apa? Maka secara spontan mereka akan menjawab, mau jadi
dokter, insinyur, pilot atau sederet profesi lainnya di luar profesi guru. Alur
pemikiran ini pun seolah-olah kita benarkan, manakala kita beruntung memiliki
anak super cerdas. Menurut hemat kita cita-cita anak tersebut lebih cocok
diarahkan kepada “profesi favorit” di atas atau jalur akademis lainnya,
asalkan jangan jadi guru. Kita merasa tidak rela jika ada anak super pintar
cita-citanya disalurkan untuk menjadi seorang guru kelak.
Masyarakat kita
terlalu picik beranggapan, profesi guru cukup diemban oleh mereka yang tingkat
kepintarannya biasa-biasa saja, atau mereka yang secara sarkastis kita
golongkan sebagai “manusia kelas dua”. Profesi guru tidak dipandang sebagai
potensi strategis dalam menentukan bentuk dan corak bangsa di masa
sekarang dan masa depan. Tetapi ironisnya, pada waktu yang sama kita
berharap agar putera-puteri kita sendiri sedapat mungkin dididik oleh
guru-guru yang serba baik dan berkualitas.
Mungkinkah
seorang guru, yang nota bene kita anggap sebagai “manusia kelas dua”, akan
dapat menghasilkan anak didik dengan prestasi akademik kualitas prima? Bukankah
kita lupa, bahwa calon insinyur, dokter dan pilot berkualitas yang selalu
kita cita-citakan itu juga harus dididik oleh guru-guru yang berkualitas pula?
Jika kita sendiri yang menganggap guru-guru mereka sebagai manusia kelas dua,
lantas kualitas apa yang mesti kita lekatkan pada putera-puteri tersayang yang
sering kita banggakan sebagai generasi pewaris masa depan? Inilah sebuah
paradoks nalar dan kemunafikan publik bangsa ini yang tidak pernah terkoreksi
sampai pada detik ini!
Tidak
mengherankan jika kerancuan juga meliputi paradigma pengadaan tenaga
kependidikan. Lembaga-lembaga pendidikan keguruan sejak dulu, seperti IKIP,
FKIP, STKIP, SPG, FIP, PGSD dan sejenisnya selalu kalah populer di mata
masyarakat dari lembaga pendidikan non-keguruan. Simaklah fenomena yang
terjadi pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Lembaga pendidikan non-keguruan
selalu menjadi rebutan, sementara lembaga pendidikan keguruan senantiasa sepi
peminat. Kalau pun akhirnya terisi, itupun setelah lembaga pendidikan yang
digolongkan favorit oleh opini publik tersebut tidak lagi memiliki daya
tampung. Wacana pendidikan kita tidak pernah terbebas dari pergulatan sengit antara
prestise dan prestasi.
Akhirnya, lembaga-lembaga pendidikan keguruan diisi oleh mereka-mereka
yang dipersepsikan “kalah bersaing” di pentas pendidikan nasional. Bisa
dibayangkan, kalau prakondisi calon mahasiswa keguruan tidak diberangkatkan
dari motivasi dan ketulusan hati untuk berkiprah di bidang keguruan, teramat
sulit diharapkan ia akan bisa menjadi seorang guru yang profesional kelak.
Kondisi yang
paling memilukan adalah tragedi panjang penghargaan finansial atas profesi
guru. Penghargaan ekonomi terhadap guru sungguh tidak paralel dengan sloganisme
guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada nuansa pekat hipokrit melekat di
sini, karena dengan penuh basa-basi profesi guru diangkat dan dianggap
sebagai profesi yang amat mulia. Tetapi secara realita profesi tersebut
kehilangan penghargaan dalam konteks profesionalisme nyata, bahkan sering
disudutkan nyaris tanpa makna .
Imbalan profesi
guru yang memang marjinal, tetapi tragisnya kemudian dimarjinalkan lagi
oleh rekayasa sistem birokrasi. Tidak jarang terjadi, entah berapa macam jenis
potongan gaji guru yang alokasi dananya tak tahu rimbanya. Masih tersisakah
bisikan suci dalam hati nurani mereka yang doyan menyunat gaji guru,
bahwa dulu mereka pernah dididik dan diajar oleh seorang guru? Bukankah posisi
empuk yang mereka duduki di jajaran birokrasi saat ini tidak bisa terlepas dari
jasa-jasa para guru? Akhirilah drama pilu ini sebagai ungkapan balas jasa
anda kepada guru!
Tidak terhitung lagi
aksi-aksi unjuk rasa dan demo para guru-guru, baik di daerah maupun di
pusat, pada hakikatnya merupakan ungkapan kekecewaan atas
kemunafikan-kemunafikan yang telah diberlakukan pada diri mereka selama ini.
Kendatipun gugatan dan tuntutan para guru telah nyaring bergaung dalam forum
demo, jika kunci jawabannya tidak bersumber dari bisikan hati nurani para
pemangku kewenangan bangsa ini, maka nasib guru akan tetap dipinggirkan dan
dininabobokan melalui manisnya sloganisme dan retorika belaka. Lantas, siapa
yang harus membela para guru? Guru; guru digugu guru ditiru, jangan sampai
menjadi artefak sejarah, kemudian dilupakan. Selamat memperingati hari guru.
Penulis adalah anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar