Senin, 07 Desember 2015

Bayang-Bayang Hipokrisi pada Kaum Guru



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Medan Bisnis, 25 November 2015 

Tanggal 25 November merupakan momentum bahagia bagi guru-guru di tanah air, sebab pada tanggal itu diperingati sebagai Hari Guru. Setiap kali kita memperingati hari guru, batin kita senantiasa diajak melongok kembali relung-relung kelam dan dinamika dunia keguruan. Esei ini hanyalah sekedar pemaparan relung-relung kelabu kondisi objektif dunia keguruan yang tak pernah tersintesa oleh perkembangan sejarah peradaban  bangsa yang besar ini.

Menurut hemat penulis, permasalahan pendidikan khususnya dunia keguruan di negeri ini, bukanlah persoalan yang menyangkut kualitas dan penghargaan terhadap guru semata. Tetapi masalah tenaga kependidikan (guru)  adalah persoalan serius komitmen sebuah bangsa yang bernama Indonesia dalam mendudukkan profesi guru secara proporsional dan profesional.  Sebuah bangsa  besar yang telah dicatat oleh tinta kelam sejarah dalam memposisikan profesi guru penuh hipokrisi (kemunafikan). Tidak saja kemunafikan dalam mendudukkan aspek eksistensial dan finansial guru, tetapi juga kemunafikan dalam dimensi visi, populis dan respek terhadap dunia keguruan itu sendiri.

Hipokrisi ini terjadi akibat pengkondisian kultural  masyarakat dalam menyikapi dan memandang profesi guru secara marjinal. Bukan saja dalam tataran opini massa tetapi juga di alam realita dan idiom-idiom populis  kekinian. Opini publik yang terbentuk cenderung menganggap profesi guru sebagai profesi yang miskin prestisius (gengsi). Akibatnya, guru hanya dihargai sebatas manisnya sloganisme dan indahnya sebuah retorika belaka.

Cobalah bertanya pada putra-putri kita yang saat ini duduk di bangku TK atau SD,: kalau sudah besar nanti mau jadi apa? Maka secara spontan mereka akan menjawab, mau jadi dokter, insinyur, pilot atau sederet profesi lainnya di luar profesi guru. Alur pemikiran ini pun seolah-olah kita benarkan, manakala kita beruntung memiliki anak super cerdas. Menurut hemat kita cita-cita anak tersebut lebih cocok diarahkan  kepada “profesi favorit” di atas atau jalur akademis lainnya, asalkan jangan jadi guru. Kita merasa tidak rela jika ada anak super pintar cita-citanya disalurkan untuk menjadi seorang guru kelak.

Masyarakat kita terlalu picik beranggapan, profesi guru cukup diemban oleh mereka yang tingkat kepintarannya biasa-biasa saja,  atau mereka yang secara sarkastis kita golongkan sebagai “manusia kelas dua”. Profesi guru tidak dipandang sebagai potensi strategis dalam menentukan bentuk dan corak bangsa  di masa sekarang dan  masa depan. Tetapi ironisnya, pada waktu yang sama kita berharap agar putera-puteri kita sendiri  sedapat mungkin dididik oleh guru-guru yang serba baik dan berkualitas.

Mungkinkah seorang guru, yang nota bene kita anggap sebagai “manusia kelas dua”, akan dapat menghasilkan anak didik dengan prestasi akademik kualitas prima? Bukankah kita lupa, bahwa calon insinyur, dokter dan pilot  berkualitas yang selalu kita cita-citakan itu juga harus dididik oleh guru-guru yang berkualitas pula? Jika kita sendiri yang menganggap guru-guru mereka sebagai manusia kelas dua, lantas kualitas apa yang mesti kita lekatkan pada putera-puteri tersayang yang sering kita banggakan sebagai generasi pewaris masa depan? Inilah sebuah paradoks nalar dan kemunafikan publik bangsa ini yang tidak pernah terkoreksi sampai pada detik ini!

Tidak mengherankan jika kerancuan juga meliputi paradigma pengadaan tenaga kependidikan. Lembaga-lembaga pendidikan keguruan sejak dulu, seperti IKIP, FKIP, STKIP, SPG, FIP, PGSD dan sejenisnya selalu kalah populer di mata masyarakat dari lembaga pendidikan non-keguruan. Simaklah  fenomena yang terjadi pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Lembaga pendidikan non-keguruan selalu menjadi rebutan, sementara lembaga pendidikan keguruan senantiasa sepi peminat. Kalau pun akhirnya terisi, itupun setelah lembaga pendidikan yang digolongkan favorit oleh opini publik tersebut tidak lagi memiliki daya tampung. Wacana pendidikan kita tidak pernah terbebas dari pergulatan sengit antara prestise dan prestasi.
 
Akhirnya, lembaga-lembaga pendidikan keguruan diisi oleh mereka-mereka  yang dipersepsikan “kalah bersaing” di pentas pendidikan nasional. Bisa dibayangkan, kalau prakondisi calon mahasiswa keguruan tidak diberangkatkan dari motivasi dan ketulusan hati untuk berkiprah di bidang keguruan, teramat sulit diharapkan ia akan bisa menjadi seorang guru yang profesional kelak.

Kondisi yang paling memilukan adalah tragedi panjang penghargaan finansial atas profesi guru. Penghargaan ekonomi terhadap guru sungguh tidak paralel dengan sloganisme guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada nuansa pekat hipokrit melekat di sini, karena dengan penuh basa-basi profesi guru  diangkat dan dianggap sebagai profesi yang amat mulia. Tetapi secara realita profesi tersebut kehilangan penghargaan dalam konteks profesionalisme nyata, bahkan sering disudutkan nyaris tanpa makna .

Imbalan profesi guru yang memang  marjinal, tetapi tragisnya kemudian dimarjinalkan lagi oleh rekayasa sistem birokrasi. Tidak jarang terjadi, entah berapa macam jenis potongan gaji guru yang alokasi dananya tak tahu rimbanya. Masih tersisakah bisikan suci dalam hati nurani mereka yang  doyan menyunat gaji guru, bahwa dulu mereka pernah dididik dan diajar oleh seorang guru? Bukankah posisi empuk yang mereka duduki di jajaran birokrasi saat ini tidak bisa terlepas dari jasa-jasa para guru?  Akhirilah drama pilu ini sebagai ungkapan balas jasa anda kepada guru!
 
Tidak terhitung lagi aksi-aksi unjuk rasa dan demo para guru-guru,  baik di daerah maupun di pusat, pada hakikatnya merupakan ungkapan kekecewaan atas kemunafikan-kemunafikan yang telah diberlakukan pada diri mereka selama ini. Kendatipun gugatan dan tuntutan para guru telah nyaring bergaung dalam forum demo, jika kunci jawabannya tidak bersumber dari bisikan hati nurani para pemangku kewenangan bangsa ini, maka nasib guru akan tetap dipinggirkan dan dininabobokan melalui manisnya sloganisme dan retorika belaka. Lantas, siapa yang harus membela para guru? Guru; guru digugu guru ditiru, jangan sampai menjadi artefak sejarah, kemudian dilupakan. Selamat memperingati hari guru.


Penulis adalah anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar