Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Publica Pos, 5 Desember 2015
Problem yang sangat seringkali
saya temui saat mengajar siswa/i di kelas adalah; jika saya ajukan sebuah
pertanyaan untuk menguji sebatas mana penguasaan materi mereka, maka sebagian
besar dari siswa-siswa tersebut akan berfikir keras hanya untuk mengingat
susunan huruf, titik, koma yang sepersis-persisnya dengan yang ada di buku
pelajaran. Dan ketika saya pindahkan aplikasi jawaban tersebut kepada bentuk
persoalan yang lain, maka mereka pun tidak mengetahui bagaimana mengaplikasikan
jawabannya tadi, padahal sebenarnya sederhana saja asalkan mereka mengetahui
hakikat konsepnya.
Dalam contoh kasus lain,
anak-anak juga begitu “takut” mengisikan soal-soal di lembar kerja siswa (LKS)
atau tugas-tugas pekerjaan rumahnya dengan jawaban yang dirasa amat berbeda
dengan yang tertulis pada buku paket. Seperti dalam benak mereka redaksi pada
buku paket itu adalah pakem yang harus diikuti agar mendapat nilai benar.
Tentu persoalan ini tidak
hanya berhenti di sini. Yaitu dengan imbasnya kepada hal-hal lain yang tak
kalah berbahayanya, seperti sikap kritis yang amat dibutuhkan sebagai modal
pembentuk kepribadian siswa agar lebih kreatif.
Lalu apa jadinya nasib
generasi bangsa ke depan jika SDM-nya hanya menurut dan tidak berani berfikir
dan bertindak kreatif? Maka, sebuah benang merah yang dapat saya tarik dari
permasalahan ini adalah betapa lemahnya inisiatif atau motivasi intrinsik yang
mereka miliki dikarenakan tidak mengetahui hakikat dan alasan mengapa ia
melakukan sesuatu hal (dalam hal ini mengikuti pelajaran) sehingga mereka
cenderung berfikir pasif.
Dan seperti yang kita
ketahui bahwa salah satu pemicu lahirnya motivasi intrinsik dengan meminjam
istilah dalam Quantum Learning Bobbi De Porter disebut sebagai; AMBAK (apa
manfaatnya bagiku). Di mana AMBAK ini berperan menumbuhkan pertanyaan mendasar
pada diri siswa ketika akan mempelajari sesuatu mengenai manfaat apa yang akan
ia peroleh. Untuk kemudian pola pikir tersebut menjadi sebuah kebiasaan baik
(good habit) yang membuat siswa senantiasa menggali lebih dalam dengan
sendirinya apa saja konten-konten yang bermanfaat dari apa yang ia pelajari.
Namun, seperti yang sudah
kita maklumi bahwasannya betapa sekolah pun memang tidak memberikan kesempatan
yang leluasa kepada siswa untuk mengembangkan budaya kritis. Di mana
siswa tidak dibiasakan untuk melakukan penelititan atau kritik terhadap materi.
Siswa cenderung harus “manut” terhadap apa saja yang harus mereka terima, tanpa
mengetahui apakah maslahat yang dikandung materi/pemberian tersebut terhadap
masa depan mereka, khususnya kemampuan mereka memecahkan persoalan.
Jika A yang diberikan
guru, maka A pula yang harus ditelan oleh siswa, kadang-kadang dengan
otoritasnya sebagai pengajar, beberapa guru akan memberikan hukuman kepada mereka
yang tidak patuh terhadap asas pengajaran yang seperti ini. Juga yang tak kalah
parah, anak yang kritis cenderung dianggap aneh/asing dan mendapatkan ejekan
dari teman-teman sekelasnya.
Pun, tak kalah dengan
kurikulum yang memang amat mengesampingkan budaya kritis atau bernalar, yang
tampak dari porsi pelajaran yang begitu banyak urusan hafal-menghafal. Pandangan
saya bahwasannya anak-anak kita telah ditunjukkan arah belajar kecakapan yang
salah. Analoginya, anak-anak kita seperti dibekali kompas yang rusak untuk
berpetualang. Mereka dibuat fokus mengejar kecakapan kadaluarsa, seperti
kognitif rutin itu. Sebaliknya, anak-anak kita sangat jarang diberi kesempatan
mengembangkan kecakapan abad ke-21, seperti bernalar tingkat tinggi.
Ya, bernalar tingkat
tinggi. Kenapa harus bernalar tingkat tinggi? Sebab masalah penyimpanan dan
sistem pencarian informasi sudah dipecahkan oleh Google. Sungguh absurd jika
pelajar justru difokuskan mengejar kecakapan yang sudah dapat dikerjakan mesin.
Lalu, apa yang dapat kita
perbuat atas persoalan ini? Dalam tulisan kecil ini saya akui bahwasannya saya
tidak bisa memberikan pil manjur yang dapat membereskan persoalan ini secara
serta merta dan tuntas. Sebab pendidikan, berikut elemen-elemen yang ada di
dalamnya adalah sesuatu yang sangat kompleks, seperti juga hakikat diri manusia
sebagai pelakunya. Maka setidaknya saya mencermati salah satu bagian yang amat
penting saja yaitu pembangunan karakter.
Pentingnya Karakter
Karakter adalah cara
berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan
siap mempertanggung jawabkan akibat dari setiap keputusan yang ia buat.
Dalam hal ini, saya
mengembalikan lagi pada persoalan yang saya gambarkan di atas bahwa betapa
pentingnya karakter sebagai pondasi anak dalam menentukan tujuan yang harus ia
tempuh demi kebaikannya di masa sekarang dan yang akan datang. Lalu kenapa
harus karakter? Tentu, sebab sangat jelas perbedaan antara anak yang memiliki
karakter dibanding anak yang tidak memiliki karakter yang kuat. Dimana anak
yang memiliki karakter cenderung lebih memahami pilihannya, berikut manfaat,
resiko dan hal-hal apa saja yang harus ia tempuh dalam mencapai tujuannya.
Sebab ia memiliki minat atau passion yang lebih baik terhadap bidang yang ia
geluti. Ia juga memahami aplikasi yang tepat kepada lingkungan dan masyarakat
sampai pada lingkup yang paling luas sekalipun. Dan relevansinya kepada konsep
AMBAK tadi sejalan, bukan?
Contoh nyata ini
seringkali saya lihat pada lembaga pendidikan alternatif, seperti sekolah alam
di mana kegiatan-kegiatan seperti mengorganisir kelompok (kepemimpinan),
berempati, beradaptasi mendapat perhatian lebih. Sehingga kemampuan siswa dalam
bertindak sebagai mahkluk sosial yang sesungguhnya akan lebih terbangun,
seperti apa yang dikatakan Daniel Goleman bahwasannya keberhasilan seseorang di
masyarakat dipengaruhi 80% oleh kecerdasan emosi dan 20% oleh kecerdasan otak
(IQ).
Karena pendidikan
karakter juga adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action) yang lebih menyeluruh
maka keberhasilan siswa yang nantinya bakal menjadi bagian dari masyarakat akan
lebih dapat menyumbangkan manfaatnya, baik dalam kapasitas kecerdasan emosi
maupun keilmuannya.
Maka, sekali lagi dengan
penerapan dan penguatan karakter pada diri siswa-siswi, kita tidak akan melihat
lagi istilah “salah jurusan” atau salah memilih kegiatan, minat, pencarian akan
ilmu yang ia butuhkan pada anak berkarakter, sebab dirinya memahami secara utuh
kapasitas diri, serta tujuan yang ia tempuh.
Dan sebagai penutup, saya
ingin mengutip sedikit kata-kata dari Dr. Martin Luther King; Intelegence plus
character, that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter
adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Penulis adalah anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia, Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar