Jumat, 20 November 2015

Upaya Mengatasi Sarjana Pengangguran



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Medan Bisnis, 14 November 2015 

Hakikat pendidikan adalah sebagai sarana untuk mentrasformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestige of life) dimata publik walaupun dari keturunannya yang tidak memiliki kekayaan berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah mencari pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.

Seorang sarjana yang lebih punya bekal ilmu dan luas pengetahuannya, lebih mantap profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki semangat wirausaha dengan jiwa kepemimpinannya yang matang, seharusnya bebas dari pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan tidak begitu adanya. Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut saja melaporkan bahwa pengangguran di Sumut meningkat menjadi 421 ribu orang per Februari 2015. Angka ini meningkat dari Agustus 2014 yang hanya mencapai 391 ribu orang. Dan 26,9 ribu orang (6,39 persen) diantara pengangguran itu adalah lulusan sarjana.

Hingga saat ini pemerintah belum mampu mengatasi persoalan klasik seputar besarnya angka barisan pencari kerja (long job quequing). Meskipun Pemerintah Provinsi Sumut selalu berupaya mengurangi jumlah pengangguran dengan memperbanyak kesempatan kerja, mengirim tenaga kerja Indonesia dan menggelar transmigrasi. Disisi lain pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin gencar bertambah di tiap-tiap perusahaan tidak dapat dihindari lagi lantaran pertumbuhan ekonomi yang tidak kunjung stabil.

Padahal, tingkat pengangguran sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk pada tiap-tiap daerah. Sedangkan kesejahteraan itu sendiri merupakan tanggungjawab utama negara (pemerintah) atas hak rakyat untuk memperoleh penghidupan yang layak dan mapan. Oleh sebab itu, perlu adanya revolusi besar-besaran dalam penanganan masalah pengangguran utamanya di Sumut. Mengingat penyelesaian konvensional selama ini tidak memberikan perubahan yang signifikan.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seluruh pemangku kebijakan (stakeholder) utamanya pemerintah, pihak universitas dan pengusaha termasuk peserta didik (mahasiswa) itu sendiri. Pertama, melakukan pemetaan antara dunia pendidikan di kampus melalui program-program studi yang ada dengan prediksi kebutuhan tenaga kerja di lapangan.

Tidak adanya keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara lulusan universitas dengan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah pemicu tingginya pengangguran terdidik. Karena lulusan universitas tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha yang ada. Tidak heran ketika kelompok terpelajar masih saja kesulitan mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bekal keilmuan yang telah diperolehnya.

Pada dasarnya, pemerintah harus mampu membuat pemetaan kebutuhan tenaga kerja (national grand desing university graduate). Pemetaan itu dirasa amat penting sebagai tujuan dan arah pendidikan di kampus. Sehingga kampus selaku penggodok calon-calon tenaga kerja handal yang profesional memiliki sinergitas sesuai tuntutan dan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha kontemporer. Termasuk kemungkinan-kemungkinan bila harus menutup dan membuka program studi yang ada.

Kedua, perlu adanya pengembangan berbagai softskill yang diberikan kepada para mahasiswa. Tidak hanya ketika mengenyam pendidikan dibangku kuliah saja, namun ketika lulus pun pihak universitas dalam hal ini masih punya beban moral, sosial dan kredibilitas kepada para alumninya. Softskill yang diberikan haruslah berdasarkan atas kebutuhan masyarakat kontemporer. Untuk itu, semua stakeholder harus pro-aktif.

Terlebih bagi pemerintah yang seharusnya lebih bertanggungjawab dan memiliki peran serta andil yang sangat urgen akan hal ini. Harapannya, pemerintah dapat menciptakan keseimbangan antara dunia pendidikan (universitas) dengan kebutuhan masyarakat saat ini, baik dalam segi pengembangannya maupun proses kegiatan aplikasinya. Materi yang ditanamkannya pun minimal mencakup pada pengembangan komunikasi, wawasan, kemandirian dan kemasyarakatan. Hal ini akan menjadikan orientasi bukan sekedar melahirkan jumlah calon karyawan yang mencari kerja (what to do) tetapi menciptakan calon-calon pengusaha yang mandiri (what to be).

Penggangguran terdidik memang telah memperburuk wajah suram dunia pendidikan kita. Para lulusan yang ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman. Bahkan Indonesia mendapat ranking 1 di Asia dalam jumlah pengangguran tertinggi. Masyarakat sendiri sebenarnya punya kontribusi dosa terkait penumpukan pengangguran terdidik ini. Sebab masyarakat terlalu menghargai jenis pekerjaan tertentu semisal pegawai negeri atau pengawai swasta.

Selain itu, melihat kesempatan lapangan pekerjaan selama ini yang memang belum sebanding dengan jumlah lulusan universitas, seharusnya masyarakat juga mau belajar menghargai tumbuhnya semangat wirausaha. Atmosfer perguruan tinggi lewat kelembagaan kemahasiswaan sudah mendorong terbangunnya kompetensi ini. Sehingga para sarjana tidak hanya bisa melamar pekerjaan namun dituntut mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri dan masyarakat disekitarnya. Seorang sarjana dengan kompetensi yang dimiliki dan atmosfer yang ada menjadikan mereka sanggup untuk hidup (ready to survive). Bila semua solusi tersebut dilaksanakan, bukan tidak mungkin, tak akan ada lagi pengangguran terdidik/sarjana di Indonesia. Semoga…

Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Terimakasih Pak Raden (Drs. Suyadi)



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Swara Kita Manado, 10 November 2015 

Lagi-lagi, dunia hiburan tanah air kembali berduka. Salah satu seniman yang sudah melegenda, Drs. Suyadi atau yang lebih akrab disapa Pak Raden, menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari Jumat malam, 30 Oktober 2015 lalu di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Selatan, di usianya yang ke-83 tahun. Beliau meninggal akibat infeksi pada paru kanannya. Sebelumnya, beliau sempat dibawa ke ruang Intensive Care Unit (ICU), namun apa daya, Sang Khalik pada akhirnya memanggil beliau kembali ke pangkuanNya. Kepergiannya sangat menyisakan duka mendalam khususnya bagi rakyat Indonesia yang masa kecilnya diisi dengan watak antagonis Pak Raden dalam serial sandiwara Si Unyil itu.

Kehidupan, Karya dan Kontribusi
Pak Raden lahir di Puger, Jawa Timur, pada 28 November 1932. Sejak kecil, beliau sudah sangat gemar menggambar dan hal-hal berbau seni lukis. Selain itu, beliau juga lihai menciptakan berbagai benda dari tanah liat dan lilin. Sebenarnya, waktu kecil ia bercita-cita menjadi seorang dalang. Namun, cita-cita itu tak kesampaian. Nasib justru membawa beliau kuliah jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memberinya gelar “doktorandus”. Beliau sempat menjadi dosen luar biasa di almamaternya itu. Saat itu jugalah, cita-cita beliau beralih untuk memiliki studio animasi dan film boneka.

Di bangku perkuliahan, pak Raden pun semakin mengasah bakat menggambarnya dengan membuat ilustrasi cerita anak. Karena bakatnya, ia pernah terpilih sebagai illustrator buku cerita anak-anak terbaik di acara Tahun Buku Internasional 1972. Selain itu, ia juga mengarang buku anak-anak. Bakatnya itu juga membawanya bisa belajar perfilman selama tiga tahun di studio Prancis, Les Cineastes dan di Les Films Martin Boschet. Ia juga pernah bekerja sebagai art director dan menangani beberapa film seperti Lampu Merah, Pemburu Mayat, Kabut di Kintamani dan Cobra.

Setelah itu, ia pun kembali ke tanah air dan bergabung dengan studio film Pusat Produksi Film Nasional (PPFN). Sejak saat itulah, boneka-boneka karakter Si Unyil lahir. Siapa yang tak tahu serial boneka Si Unyil? Serial itu merupakan acara anak-anak terpopuler tahun 1980-an. Tak hanya memberi edukasi, serialnya juga menghibur (sesuatu yang langka kini di televisi kita). Tahun 1983, serial Si Unyil itu meraih penghargaan dari organisasi PBB The United Nations Children’s Fund (UNICEF) sebagai film pendidikan terbaik untuk negara-negara berkembang.

Sejak saat itu, karya Pak Raden tersebut semakin popular di kalangan masyarakat terutama anak-anak. Bahkan Si Unyil telah jadi maskot era 1980-an. Karakter-karakter dalam serial itu saja masih melekat di ingatan kita hingga kini seperti pak Ogah dengan ungkapan khasnya, “Cepek dulu.”, pun dengan Unyil dan kawan-kawannya yang selalu jadi anak SD yang kompak. Dan tak lupa, karakter Pak Raden dengan kumis melintang, belangkon, bersuara keras dan galak. Inilah bukti kehebatan Pak Raden. Ia sahabat sejati anak-anak.

Belajar dari Pak Raden
Pak Raden tak akan pernah tergantikan. Namun, kita bisa belajar darinya – berkontribusi kepada dunia anak. Indonesia butuh orang-orang sepertinya. Apalagi belakangan ini, banyak kekerasan pada anak Indonesia seperti pelecehan seksual dan pembunuhan. Predator anak kian marak. Tak ada lagi tempat aman bagi anak-anak baik sekolah, masyarakat bahkan keluarga sekalipun. Buktinya, kasus pembunuhan Angeline di Bali dan Putri di Kalideres Jakarta, kasus sodomi di sekolah Jakarta International School (JIS) bisa terjadi. Indonesia kini darurat kekerasan anak. Bahkan di Asia, Indonesia menempati peringkat pertama kasus kekerasan anak. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang patut dicontoh dari sosok Pak Raden untuk memperbaiki nasib masa depan anak kita.

Pertama, penyayang anak kecil. Kecintaan Pak Raden pada anak-anak melalui karyanya benar-benar tulus, bukan karena ingin meraup uang. Baginya, anak merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibentuk menjadi generasi yang sehat jasmani, rohani dan akhlak. Di masanya, psikologi anak bisa dikatakan tercukupi dengan hiburan dari karya-karyanya. Sekarang? Pelecehan seksual dan pembunuhan pada anak seakan sudah menjadi sebuah budaya. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan kekerasan anak tiap tahunnya meningkat: 2011 (2178 kasus), 2012 (3512 kasus), 2013 (4311 kasus) dan 2014 (5066 kasus). Kasus itu meliputi pemukulan hingga luka, pelecehan seksual hingga pembunuhan.

Lalu, kemana lagi anak berlindung? Kita perlu belajar dari Pak Raden. Dia berkarya untuk masa depan anak yang lebih baik. Saya yakin, semua orang yang menonton Si Unyil dulunya pasti memiliki masa kecil yang indah dan berwarna.  Sudah saatnya melindungi anak-anak kita, bisa diawali dari lingkungan keluarga. Orangtua harus menjamin ketercukupan kebutuhan psikologis dan materi si anak. Orangtua mesti memberi waktu berkualitas kepada anak, jangan ‘menyibukkan diri’ dengan pekerjaan saja. Kemudian, jangan pernah  mengeksploitasi anak sebagai pemulung, pengamen dan pengemis  dan jenis pekerjaan lainnya. Karena hal itu juga melanggar HAM anak yang tertuang dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Namun apa daya, rakyat tak mengerti hukum, wajar saja eksploitasi ini terus terjadi. Bahkan pemerintah sendiri pun seakan tak peka akan hal ini. Banyak pekerja anak kecil yang berkeliaran namun tak ditindaklanjuti. Demikian juga di sekolah, guru harus benar-benar mendidik dan melengkapi anak dengan pengetahuan dan akhlak yang baik agar tak terjadi perkelahian yang merujung luka dan kematian.

Kedua, tak mudah mengeluh. Banyak orang mengira Pak Raden punya banyak harta dari karya-karyanya. Anggapan itu salah, nyatanya hidup beliau serba pas-pasan, rumah pun tak punya. Ia menumpang di rumah saudaranya. Namun ia tak mengeluh. Ia tetap fokus berkarya hingga menghasilkan ratusan lukisan. Ia juga tak menuntut apa-apa dari pemerintah atas jasanya bagi anak-anak Indonesia. Berbeda dengan kita, mengeluh menjadi kata gampangan keluar dari mulut kita. Tak mau bekerja keras namun ingin cepat kaya. Tak heran, banyak dari kita mengambil jalan pintas sebagai maling/pencuri, begal, pembobol ATM, perampok, pengedar narkoba dll. Kita semakin serakah, tak pernah bersyukur dengan apa yang kita miliki padahal masih memiliki anggota tubuh yang lengkap yang bisa diupayakan untuk mencari nafkah.

Begitu miris. Bukan saatnya lagi berleha-leha dan bermanjaria di zaman post-modernisme ini.  Belajar dari Pak  Raden, mari lebih memaksimalkan tenaga dan intelijensi yang kita miliki untuk menuju hidup yang sejahtera tanpa harus mengeluh. Beliau saja bisa bertahan hidup hingga 83 tahun  dan berkaya selama 60 tahun lebih tanpa mengeluh, apalagilah kita yang masih punya banyak kesempatan untuk hidup lebih layak.

Ketiga,  penyayang hewan. Beliau suka dengan hewan terutama kucing. Pasca wafatnya beliau, saudara Pak Raden menunjukkan beberapa kucing beranak yang ada di kamar beliau melalui tayangan infotainment di televisi. Saudaranya tersebut berujar bahwa Pak Raden sangat menyayangi hewan. Sejenak saya merenung, bagaimana dengan kita sekarang. Sudahkah kita menyayangi hewan? Sepanjang 2015 ini, kita banyak digegerkan dengan foto-foto pemburuan hewan yang dilindungi. Ada begitu banyak beruang madu, kucing hutan, gajah, dll yang diburu untuk dijadikan makanan dan kepentingan lain. Entah siapa yang patut disalahkan, pemerintah yang lengah mengawasi atau rakyat yang tak tahu menahu peraturan. Padahal perilaku itu jelas-jelas melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Keempat, cinta dengan budaya sendiri. Saudara Pak Raden itu melanjutkan bahwa beliau tiada hari tanpa mendengar lagu-lagu daerahnya (Jawa). Saat melukis sekalipun, lagu-lagu itu selalu menemaninya. Kecintaanya pada budaya dan tradisi sukunya tentu patut dipuji. Berbeda dengan generasi masa kini yang terus tergerus arus negatif dari globalisasi. Sudah banyak yang tak menyukai budaya, tarian, lagu daerah dan tradisi lainnya. Lihat saja, sudah banyak anak muda yang malu menggunakan bahasa daerahnya karena tak mau dianggap kampungan. Saya pikir, kita perlu membangkitkan kembali budaya, musik dan tradisi suku kita. Kita harusnya bangga memiliki bergelimang keragaman yang menjadi ciri khas negara Indonesia yang tak dimiliki negara manapun di dunia. Orang barat saja ke Indonesia untuk kenal batik, gamelan, angklung, dan seluruh budaya kita, masa kita tak mau?

Tak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan. Belajar itu seumur hidup. Mari belajar dari Pak Raden yang sudah melakukannya terlebih dahulu. Satu pesannya sekaligus motto hidupnya yaitu “Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan Cinta”. Beliau telah banyak berkarya dengan cinta untuk kita. Kita pun perlu melakukannya dalam konteks saat ini. Harapannya, Nasib Indonesia bisa lebih baik ke depan terutama kehidupan anak-anak. Akhir kata, biarlah semua keteladanan Pak Raden ini tetap kita warisi dan kita kembangkan.

Selamat jalan Pak Raden. Terimakasih telah membuat masa kecil kami indah dan berwarna dengan karyamu…

Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Tanggap Bencana Banjir dan Tanah Longsor



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Malut Post, 16 November 2015 

Bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di berbagai daerah di Indonesia belum sepenuhnya usai, namun kini kita harus menyiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana di musim hujan. Laporan dari beberapa daerah menunjukkan kerentanan alam telah memudahkan terjadinya banjir dan tanah longsor.

Dari Bogor, Jawa Barat, dilaporkan telah terjadi tanah longsor setelah hujan deras turun hingga menyebabkan satu orang tewas dan empat lainnya terluka. Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), longsor di Bogor terjadi di empat tempat terpisah. Dan pihak BNPB mengungkapkan bahwa longsor yang terjadi di daerah tersebut bukan kategori longsor besar, melainkan longsor talud atau longsor kecil. Namun, tebing di lokasi kejadian menimbun pemukiman warga yang menjadi korban tersebut.

Dari Aceh dilaporkan potensi cuaca ekstrem di sana meningkat dan bisa membahayakan warga. Angin kencang dan hujan deras diperkirakan akan melanda wilayah tersebut selama beberapa waktu mendatang. Sementara itu, dari Karawang, Jawa Barat, juga dilaporkan kemungkinan terjadinya angin puting beliung yang bisa membahayakan warga 10 kecamatan yang selama ini memang sudah rawan bencana.

Dari Sumut dilaporkan potensi banjir besar akan terjadi hingga Desember ke depan. BMKG sebelumnya sudah melaporkan bahwa Sumut mulai diguyur hujan dari Agustus-Desember 2015. Artinya, banjir kemungkinan besar akan terjadi lagi seperti tahun-tahun yang lalu. Tak hanya itu, longsor pun bisa kembali terjadi di daerah-daerah rawan seperti di Langkat, Tapanuli tengah (khususnya Sipirok), Tapanuli Utara dan daerah perbukitan lainnya. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat mengatakan setidaknya ada 13 kecamatan rawan bencana longsor di kabupaten itu. Data ini dibuktikan dengan kuantitas longsor tiap tahun terjadi di daerah tersebut. Terakhir, longsor di Langkat terjadi Januari 2015 lalu saat musim hujan dan banjir terjadi.

Masih banyak lagi daerah-daerah di Indonesia yang diperkirakan akan mengalami musibah banjir dan tanah longsor selama musim hujan yang melanda Indonesia beberapa waktu ke depan. Daerah-daerah itu tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Maluku dll.

Berbagai peringatan dari BNPB maupun BMKG tersebut harus kita waspadai agar sedapat mungkin dampaknya bisa dikurangi. Pengalaman menunjukkan setiap tahun musibah banjir dan tanah longsor selalu terjadi, seolah-olah kita tidak memetik pengalaman dengan memperbaiki kemampuan menghadapi bencana. Kita tidak boleh lagi memandang enteng masalah ini karena wilayah terdampaknya sudah sangat luas.

Menurut perkiraan BNPB, lebih dari 40 juta penduduk tanah air tinggal di daerah-daerah yang rawan terlanda banjir dan tanah longsor. Mereka berada di 274 kabupaten dan kota. Artinya, lebih separuh wilayah Indonesia rawan banjir dan longsor. Potensi bencana di negeri ini sangat luas karena lingkungan telah dibiarkan bertahun-tahun rusak sebagai dampak eksploitasi pertambangan dan pembabatan hutan.

Karena itu, setiap waktu rakyat kita dihadapkan pada berbagai bencana silih berganti. Semua terjadi karena pemerintah melakukan pembiaran. Lihat saja dalam kasus bencana asap akibat pembakaran hutan. Kita lemah dalam penegakan hukum (law enforcement) sehingga perusakan, pembalakan, dan pembakaran hutan terus terjadi.

Rakyat selalu menjadi korban. Mereka juga seperti ditinggalkan. Dalam menghadapi banjir dan tanah longsor, tak pernah ada tindakan serius dan berkelanjutan dari pemerintah untuk menyiapkan warga menghadapi bencana. Mestinya ada program berkelanjutan, mulai dengan penyuluhan tingkat kerawanan wilayah, kemudian menyiapkan langkah-langkah antisipasinya, termasuk persiapan evakuasi bila bencana benar-benar terjadi.

Warga selalu dihadapkan pada situasi mendadak tanpa persiapan sehingga banyak dari mereka tidak mampu menyelamatkan diri. Warga selalu mati sia-sia, padahal semestinya risiko itu bisa diminimalkan bila ada peringatan dini sebelumnya. Bukan hanya menghadapi banjir dan tanah longsor, melainkan juga bencana lain, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan kebakaran lahan.

Pemerintah perlu menetapkan daerah-daerah rawan longsor dan angin puting beliung, kemudian memberitahukannya kepada masyarakat. Kita memiliki banyak ahli yang menguasai masalah ini sehingga tidak ada alasan pemerintah tidak mampu memberikan layanan informasi bencana ini kepada warga. Persoalannya terletak pada kesediaan aparat untuk terjun ke lapangan mendekati warga. Ini soal mentalitas yang harus segera dirubah. Kita membutuhkan pejabat yang lebih berorientasi pada pelayanan publik, sebagaimana gaya pendekatan Presiden Joko Widodo.

Penanganan bencana tidak bisa lagi bersifat ad hoc. Pendekatannya harus bersifat integral dan berkelanjutan, tidak hanya fokus saat terjadi situasi tanggap darurat. Karena itu, negara harus terus-menerus hadir dan melayani warga, menyelami keluhan, dan kegelisahan mereka serta mencari jalan keluarnya. Negara mesti memikirkan bagaimana agar rakyat terhindar dari bencana serta membiayai sarana dan prasarana pencegahannya sehingga risiko bisa diperkecil. Itu karena sikap sembrono dan tidak peduli yang selalu menyebabkan risiko yang harus ditanggung masyarakat bertambah besar.

Bencana banjir yang bersifat musiman semestinya bisa kita hindari bila para pejabat tidak sembrono dan menjalankan tugas dengan baik. Hutan kita tak perlu gundul, bukit-bukit tetap tegak, serta rawa-rawa dan persawahan tidak berubah menjadi perumahan dan mal. Bahkan para remaja tak harus kehilangan lapangan bola seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Dengan demikian, sebenarnya dampak bencana ini masih bisa diminimalkan, bahkan mungkin bisa dicegah bila tidak ada berbagai penyimpangan seperti selama ini.

Hal lain yang juga merisaukan adalah masalah akuntabilitas dalam penglelolaan  dana. Rakyat dari waktu ke waktu selalu disuguhi kabar mengenai banyaknya pejabat yang menyelewengkan dana bantuan sosial dan anggaran lain yang seharusnya menjadi hak rakyat, terlebih rakyat yang terkena bencana. Banyak kasus korupsi angaran sosial, seperti yang sudah terkuak di berbagai daerah selama ini.

Oleh karena itu, kita meminta pemerintah lebih mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan bencaca alam. Terutama di daerah-daerah rawan bencana, pemerintah daerah harus aktif melakukan sosialisasi kesiapan warga agar mereka siap sewaktu-waktu mampu melakukan tindakan terbaik menghadapi bencana.

Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan ALumnus Universitas Negeri Medan.

Perpustakaan Desa Mewujudkan Desa Pintar



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Malut Post, 4 November 2015 

Masyarakat desa merupakan masyarakat yang selalu memegang teguh adat istiadat serta norma-norma yang berlaku sesuai karakteristik masyarakatnya. Kehidupan yang bersahaja, santun dan penuh semangat gotong royong, merupakan gambaran umum masyarakat desa. Sebagian besar masyarakatnya hidup dalam kondisi yang sederhana. Sikap sederhana ini bisa jadi terbentuk karena pertama, secara ekonomi memang tidak mampu dan yang kedua, secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri.

Inilah sedikit gambaran mengenai masyarakat desa. Kedua watak ini dalam kadar tertentu berpengaruh terhadap tingkat literasi yang rendah, relatif lebih rendah dari di kota. Tingkat literasi yang rendah ini sesungguhnya bisa digenjot dengan pengadaan layanan perpustakaan desa.

Menurut lokasinya, perpustakaan desa tidak terbatas kepada perpustakaan yang terletak di pedesaan, tetapi secara luas juga mencakup semua perpustakaan yang ada di wilayah desa/kelurahan dalam sebuah kota. Perpustakaan desa dapat dipandang sebagai basis pemasyarakatan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat, karena kebutuhan riil masyarakat akan informasi atau buku bisa langsung dipenuhi oleh perpustakaan desa tanpa harus pergi ke perpustakaan umum di pusat kota. Semakin banyak berdiri perpustakaan desa, maka akan semakin besar kemungkinan masyarakat dilayani, yang artinya akan semakin merata pula layanan perpustakaan. Kisah dari warga Sulawesi Tengah ini barangkali bisa menjadi ilustrasi yang menarik.

Indo Ninjang, 50, seorang tabib di Desa Lipu Ueviau, Kecamatan Dataran Bulang, Tojo Unauna, Palu, Sulawesi Tengah, kini gemar mengembangkan apotek hidup karena membaca sebuah tabloid di Taman Baca Desa. Dulu dia tidak bisa membaca, tetapi berkat pelajaran membaca yang diberikan oleh Yayasan Merah Putih di tahun 2002, sebagian besar warga desa yang dulunya buta huruf, kini melek huruf. Setelah mereka terampil membaca, masalah berikut adalah bahan bacaan yang belum tersedia. Berkat dorongan dan motivasi dari Yayasan Merah Putih, mereka membebaskan sebidang lahan dan besama-sama mendirikan gedung untuk taman baca. Dan lewat jaringan kerja sama antara Yayasan Merah Putih dengan sebuah komunitas pencinta buku yang berbasis di Jakarta, Taman Baca Desa ini akhirnya dipenuhi dengan buku-buku yang berguna bagi pencerdasan masyarakat desa.

Dengan adanya perpustakaan desa/kelurahan akan tercipta minat baca dan semangat belajar bagi masyarakat, dan para remaja yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta memotivasi mereka untuk dapat terus belajar melalui buku-buku (koleksi) dan informasi yang ada di perpustakaan sesuai bidang-bidang yang diminati.

Apabila hal ini telah tercapai, maka tujuan penyelenggaraan perpustakaan desa/kelurahan sebagai sarana memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat, bisa terwujud. Oleh karena itu hendaknya tumbuh kesadaran masyarakat bahwa perpustakaan desa/kelurahan didirikan untuk menumbuhkan minat baca. Tanpa adanya kesadaran masyarakat, tanggapan masyarakat dan partisipasinya terhadap perpustakaan desa/kelurahan dengan cara menggunakan koleksi perpustakaan yang telah disediakan dan memelihara kelestariannya, maka perpustakaan tersebut tidak akan mempunyai arti apa-apa. Di sini pembukaan perpustakaan perlu diasistensi oleh kelompok fasilitator yang memotivasi masyarakat untuk gemar membaca.

Dengan adanya perpustakaan desa/kelurahan, maka masyarakat Indonesia akan semakin cerdas sesuai dengan amanat UUD 1945. Di masa mendatang, diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang buta aksara, tetapi masyarakat yang cerdas dan berwawasan luas.

Perpustakaan jenis apa saja dapat berperan dengan diberdayakan sebagai pusat sumber belajar dalam kerangka ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diatur dalam UU Perpustakaan. Dalam UU Perpustakaan disebutkan bahwa fungsi dan tujuan perpustakaan adalah memberikan layanan kepada pemakai (user), meningkatkan kegemaran membaca (reading interest) yang diharapkan berkembang menjadi kebiasaan membaca (reading habit) dan berlanjut pada budaya membaca (reading culture). Kebiasaan membaca yang baik diharapkan menghasilkan kemampuan memaknai bahan bacaan (literasi informasi) yang baik, sehingga pada akhirnya sampai pada tingkatan keterampilan membaca (reading skill).

Melalui perpustakaan, bacaan-bacaan akan memperluas wawasan berpikir masyarakat, mendorong prakarsa dan swadaya masyarakat dalam usaha meningkatkan kesejahteraan, dengan mengembangkan berbagai usaha yang diinspirasi oleh bacaan sebagaimana dialami oleh masyarakat di Desa Lipu Ueviau, Sulawesi Tengah. Pada akhirnya peran perpustakaan bermuara pada terwujudnya masyarakat pembaca (reading society) atau masyarakat pembelajar (learning society), yang memiliki wawasan dan pengetahuan luas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Peran Pustakawan dan Pemda
Peran pustakawan dalam mencerdaskan masyarakat sangat dibutuhkan, terutama oleh masyarakat penggunanya. Dengan kelengkapan informasi pengetahuan yang berada di sekitarnya, pustakawan merupakan jantungnya penyebarluasan informasi. Tanpa pustakawan mustahil informasi yang ada di sekitarnya dapat sampai kepada penggunanya. Pustakawan yang dapat mencerdaskan masyarakatnya, yaitu pustakawan yang memiliki kompetensi dan kemauan keras serta memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap penggunanya.

Terlebih dengan perkembangan Teknologi lnformasi dan Komunikasi (TIK) informasi tersedia melimpah, baik di media cetak, media elektronik, dan media online yang dapat diakses kapan dan di mana saja tanpa batasan waktu. Adalah tugas pustakawan bagaimana ‘menjaring, menyaring, mengakses, mengeksplor, mengklarifikasi, mengkaji dan memudahkan temu kembali informasi-informasi tersebut bagi kepentingan pemakainya’. Hal ini butuh komitmen dan kompetensi pustakawan untuk penyelenggaraan perpustakaan yang dapat memenuhi harapan masyarakat pemakainya.

Pengetahuan pustakawan harus selalu update agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Dengan semakin menambah pengetahuan pustakawan akan semakin tahu dan dapat merujuk atau memberikan arahan kepada pembaca di perpustakaan. Di samping bermanfaat bagi para pembaca di perpustakaan, pustakawan juga dapat berperan sebagai library for all. Artinya dia menjadi sumber rujukan apabila ada warga yang membutuhkan informasi tertentu.

Perpustakaan desa/kelurahan memiliki peran yang sangat strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itu diharapkan pembinaan perpustakaan desa/kelurahan perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam rangka mencerdaskan masyarakat. Adanya otonomi daerah akan berpengaruh terhadap pembiayaan, pembinaan dan pengembangan. Karena perpustakaan di sekolah maupun di perguruan tinggi dalam kenyataannya belum mampu mengatur pelayanan perpustakaan yang merata, maka pemda kabupaten lewat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) bisa mengalokasikan sebagian dana APBD untuk mengembangkan satu perpustakaan desa sebagai pilot project pada salah satu desa atau kelurahan.

Apabila berhasil, perpustaan desa ini bisa dijadikan model bagi pengembangan perpustakaan lainnya di tingkat desa. Salah satu faktor yang signifikan dalam meningkatkan SDM ditentukan oleh keberadaan dan pemanfaatan perpustakaan sebagai layanan informasi mayarakat menuju pendidikan seumur hidup yang diselenggarakan secara terprogram dan berkelanjutan.

Penulis adalah Anggota Iniatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.