Jumat, 20 November 2015

Terimakasih Pak Raden (Drs. Suyadi)



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Swara Kita Manado, 10 November 2015 

Lagi-lagi, dunia hiburan tanah air kembali berduka. Salah satu seniman yang sudah melegenda, Drs. Suyadi atau yang lebih akrab disapa Pak Raden, menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari Jumat malam, 30 Oktober 2015 lalu di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta Selatan, di usianya yang ke-83 tahun. Beliau meninggal akibat infeksi pada paru kanannya. Sebelumnya, beliau sempat dibawa ke ruang Intensive Care Unit (ICU), namun apa daya, Sang Khalik pada akhirnya memanggil beliau kembali ke pangkuanNya. Kepergiannya sangat menyisakan duka mendalam khususnya bagi rakyat Indonesia yang masa kecilnya diisi dengan watak antagonis Pak Raden dalam serial sandiwara Si Unyil itu.

Kehidupan, Karya dan Kontribusi
Pak Raden lahir di Puger, Jawa Timur, pada 28 November 1932. Sejak kecil, beliau sudah sangat gemar menggambar dan hal-hal berbau seni lukis. Selain itu, beliau juga lihai menciptakan berbagai benda dari tanah liat dan lilin. Sebenarnya, waktu kecil ia bercita-cita menjadi seorang dalang. Namun, cita-cita itu tak kesampaian. Nasib justru membawa beliau kuliah jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memberinya gelar “doktorandus”. Beliau sempat menjadi dosen luar biasa di almamaternya itu. Saat itu jugalah, cita-cita beliau beralih untuk memiliki studio animasi dan film boneka.

Di bangku perkuliahan, pak Raden pun semakin mengasah bakat menggambarnya dengan membuat ilustrasi cerita anak. Karena bakatnya, ia pernah terpilih sebagai illustrator buku cerita anak-anak terbaik di acara Tahun Buku Internasional 1972. Selain itu, ia juga mengarang buku anak-anak. Bakatnya itu juga membawanya bisa belajar perfilman selama tiga tahun di studio Prancis, Les Cineastes dan di Les Films Martin Boschet. Ia juga pernah bekerja sebagai art director dan menangani beberapa film seperti Lampu Merah, Pemburu Mayat, Kabut di Kintamani dan Cobra.

Setelah itu, ia pun kembali ke tanah air dan bergabung dengan studio film Pusat Produksi Film Nasional (PPFN). Sejak saat itulah, boneka-boneka karakter Si Unyil lahir. Siapa yang tak tahu serial boneka Si Unyil? Serial itu merupakan acara anak-anak terpopuler tahun 1980-an. Tak hanya memberi edukasi, serialnya juga menghibur (sesuatu yang langka kini di televisi kita). Tahun 1983, serial Si Unyil itu meraih penghargaan dari organisasi PBB The United Nations Children’s Fund (UNICEF) sebagai film pendidikan terbaik untuk negara-negara berkembang.

Sejak saat itu, karya Pak Raden tersebut semakin popular di kalangan masyarakat terutama anak-anak. Bahkan Si Unyil telah jadi maskot era 1980-an. Karakter-karakter dalam serial itu saja masih melekat di ingatan kita hingga kini seperti pak Ogah dengan ungkapan khasnya, “Cepek dulu.”, pun dengan Unyil dan kawan-kawannya yang selalu jadi anak SD yang kompak. Dan tak lupa, karakter Pak Raden dengan kumis melintang, belangkon, bersuara keras dan galak. Inilah bukti kehebatan Pak Raden. Ia sahabat sejati anak-anak.

Belajar dari Pak Raden
Pak Raden tak akan pernah tergantikan. Namun, kita bisa belajar darinya – berkontribusi kepada dunia anak. Indonesia butuh orang-orang sepertinya. Apalagi belakangan ini, banyak kekerasan pada anak Indonesia seperti pelecehan seksual dan pembunuhan. Predator anak kian marak. Tak ada lagi tempat aman bagi anak-anak baik sekolah, masyarakat bahkan keluarga sekalipun. Buktinya, kasus pembunuhan Angeline di Bali dan Putri di Kalideres Jakarta, kasus sodomi di sekolah Jakarta International School (JIS) bisa terjadi. Indonesia kini darurat kekerasan anak. Bahkan di Asia, Indonesia menempati peringkat pertama kasus kekerasan anak. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang patut dicontoh dari sosok Pak Raden untuk memperbaiki nasib masa depan anak kita.

Pertama, penyayang anak kecil. Kecintaan Pak Raden pada anak-anak melalui karyanya benar-benar tulus, bukan karena ingin meraup uang. Baginya, anak merupakan titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibentuk menjadi generasi yang sehat jasmani, rohani dan akhlak. Di masanya, psikologi anak bisa dikatakan tercukupi dengan hiburan dari karya-karyanya. Sekarang? Pelecehan seksual dan pembunuhan pada anak seakan sudah menjadi sebuah budaya. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan kekerasan anak tiap tahunnya meningkat: 2011 (2178 kasus), 2012 (3512 kasus), 2013 (4311 kasus) dan 2014 (5066 kasus). Kasus itu meliputi pemukulan hingga luka, pelecehan seksual hingga pembunuhan.

Lalu, kemana lagi anak berlindung? Kita perlu belajar dari Pak Raden. Dia berkarya untuk masa depan anak yang lebih baik. Saya yakin, semua orang yang menonton Si Unyil dulunya pasti memiliki masa kecil yang indah dan berwarna.  Sudah saatnya melindungi anak-anak kita, bisa diawali dari lingkungan keluarga. Orangtua harus menjamin ketercukupan kebutuhan psikologis dan materi si anak. Orangtua mesti memberi waktu berkualitas kepada anak, jangan ‘menyibukkan diri’ dengan pekerjaan saja. Kemudian, jangan pernah  mengeksploitasi anak sebagai pemulung, pengamen dan pengemis  dan jenis pekerjaan lainnya. Karena hal itu juga melanggar HAM anak yang tertuang dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Namun apa daya, rakyat tak mengerti hukum, wajar saja eksploitasi ini terus terjadi. Bahkan pemerintah sendiri pun seakan tak peka akan hal ini. Banyak pekerja anak kecil yang berkeliaran namun tak ditindaklanjuti. Demikian juga di sekolah, guru harus benar-benar mendidik dan melengkapi anak dengan pengetahuan dan akhlak yang baik agar tak terjadi perkelahian yang merujung luka dan kematian.

Kedua, tak mudah mengeluh. Banyak orang mengira Pak Raden punya banyak harta dari karya-karyanya. Anggapan itu salah, nyatanya hidup beliau serba pas-pasan, rumah pun tak punya. Ia menumpang di rumah saudaranya. Namun ia tak mengeluh. Ia tetap fokus berkarya hingga menghasilkan ratusan lukisan. Ia juga tak menuntut apa-apa dari pemerintah atas jasanya bagi anak-anak Indonesia. Berbeda dengan kita, mengeluh menjadi kata gampangan keluar dari mulut kita. Tak mau bekerja keras namun ingin cepat kaya. Tak heran, banyak dari kita mengambil jalan pintas sebagai maling/pencuri, begal, pembobol ATM, perampok, pengedar narkoba dll. Kita semakin serakah, tak pernah bersyukur dengan apa yang kita miliki padahal masih memiliki anggota tubuh yang lengkap yang bisa diupayakan untuk mencari nafkah.

Begitu miris. Bukan saatnya lagi berleha-leha dan bermanjaria di zaman post-modernisme ini.  Belajar dari Pak  Raden, mari lebih memaksimalkan tenaga dan intelijensi yang kita miliki untuk menuju hidup yang sejahtera tanpa harus mengeluh. Beliau saja bisa bertahan hidup hingga 83 tahun  dan berkaya selama 60 tahun lebih tanpa mengeluh, apalagilah kita yang masih punya banyak kesempatan untuk hidup lebih layak.

Ketiga,  penyayang hewan. Beliau suka dengan hewan terutama kucing. Pasca wafatnya beliau, saudara Pak Raden menunjukkan beberapa kucing beranak yang ada di kamar beliau melalui tayangan infotainment di televisi. Saudaranya tersebut berujar bahwa Pak Raden sangat menyayangi hewan. Sejenak saya merenung, bagaimana dengan kita sekarang. Sudahkah kita menyayangi hewan? Sepanjang 2015 ini, kita banyak digegerkan dengan foto-foto pemburuan hewan yang dilindungi. Ada begitu banyak beruang madu, kucing hutan, gajah, dll yang diburu untuk dijadikan makanan dan kepentingan lain. Entah siapa yang patut disalahkan, pemerintah yang lengah mengawasi atau rakyat yang tak tahu menahu peraturan. Padahal perilaku itu jelas-jelas melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Keempat, cinta dengan budaya sendiri. Saudara Pak Raden itu melanjutkan bahwa beliau tiada hari tanpa mendengar lagu-lagu daerahnya (Jawa). Saat melukis sekalipun, lagu-lagu itu selalu menemaninya. Kecintaanya pada budaya dan tradisi sukunya tentu patut dipuji. Berbeda dengan generasi masa kini yang terus tergerus arus negatif dari globalisasi. Sudah banyak yang tak menyukai budaya, tarian, lagu daerah dan tradisi lainnya. Lihat saja, sudah banyak anak muda yang malu menggunakan bahasa daerahnya karena tak mau dianggap kampungan. Saya pikir, kita perlu membangkitkan kembali budaya, musik dan tradisi suku kita. Kita harusnya bangga memiliki bergelimang keragaman yang menjadi ciri khas negara Indonesia yang tak dimiliki negara manapun di dunia. Orang barat saja ke Indonesia untuk kenal batik, gamelan, angklung, dan seluruh budaya kita, masa kita tak mau?

Tak ada kata terlambat untuk sebuah perbaikan. Belajar itu seumur hidup. Mari belajar dari Pak Raden yang sudah melakukannya terlebih dahulu. Satu pesannya sekaligus motto hidupnya yaitu “Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan Cinta”. Beliau telah banyak berkarya dengan cinta untuk kita. Kita pun perlu melakukannya dalam konteks saat ini. Harapannya, Nasib Indonesia bisa lebih baik ke depan terutama kehidupan anak-anak. Akhir kata, biarlah semua keteladanan Pak Raden ini tetap kita warisi dan kita kembangkan.

Selamat jalan Pak Raden. Terimakasih telah membuat masa kecil kami indah dan berwarna dengan karyamu…

Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar