Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Swara Kita Manado, 10 November 2015
Lagi-lagi, dunia hiburan tanah
air kembali berduka. Salah satu seniman yang sudah melegenda, Drs. Suyadi atau
yang lebih akrab disapa Pak Raden, menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada
hari Jumat malam, 30 Oktober 2015 lalu di Rumah Sakit Pelni Petamburan, Jakarta
Selatan, di usianya yang ke-83 tahun. Beliau meninggal akibat infeksi pada paru
kanannya. Sebelumnya, beliau sempat dibawa ke ruang Intensive Care Unit (ICU),
namun apa daya, Sang Khalik pada akhirnya memanggil beliau kembali ke
pangkuanNya. Kepergiannya sangat menyisakan duka mendalam khususnya bagi rakyat
Indonesia yang masa kecilnya diisi dengan watak antagonis Pak Raden dalam
serial sandiwara Si Unyil itu.
Kehidupan, Karya dan Kontribusi
Pak Raden lahir di Puger, Jawa
Timur, pada 28 November 1932. Sejak kecil, beliau sudah sangat gemar menggambar
dan hal-hal berbau seni lukis. Selain itu, beliau juga lihai menciptakan
berbagai benda dari tanah liat dan lilin. Sebenarnya, waktu kecil ia
bercita-cita menjadi seorang dalang. Namun, cita-cita itu tak kesampaian. Nasib
justru membawa beliau kuliah jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung
(ITB) dan memberinya gelar “doktorandus”. Beliau sempat menjadi dosen luar
biasa di almamaternya itu. Saat itu jugalah, cita-cita beliau beralih untuk
memiliki studio animasi dan film boneka.
Di bangku perkuliahan, pak Raden
pun semakin mengasah bakat menggambarnya dengan membuat ilustrasi cerita anak.
Karena bakatnya, ia pernah terpilih sebagai illustrator buku cerita anak-anak
terbaik di acara Tahun Buku Internasional 1972. Selain itu, ia juga mengarang
buku anak-anak. Bakatnya itu juga membawanya bisa belajar perfilman selama tiga
tahun di studio Prancis, Les Cineastes dan di Les Films Martin Boschet. Ia juga
pernah bekerja sebagai art director dan menangani beberapa film seperti Lampu
Merah, Pemburu Mayat, Kabut di Kintamani dan Cobra.
Setelah itu, ia pun kembali ke
tanah air dan bergabung dengan studio film Pusat Produksi Film Nasional (PPFN).
Sejak saat itulah, boneka-boneka karakter Si Unyil lahir. Siapa yang tak tahu serial
boneka Si Unyil? Serial itu merupakan acara anak-anak terpopuler tahun 1980-an.
Tak hanya memberi edukasi, serialnya juga menghibur (sesuatu yang langka kini
di televisi kita). Tahun 1983, serial Si Unyil itu meraih penghargaan dari organisasi
PBB The United Nations Children’s Fund (UNICEF) sebagai film pendidikan terbaik
untuk negara-negara berkembang.
Sejak saat itu, karya Pak Raden tersebut
semakin popular di kalangan masyarakat terutama anak-anak. Bahkan Si Unyil
telah jadi maskot era 1980-an. Karakter-karakter dalam serial itu saja masih
melekat di ingatan kita hingga kini seperti pak Ogah dengan ungkapan khasnya,
“Cepek dulu.”, pun dengan Unyil dan kawan-kawannya yang selalu jadi anak SD
yang kompak. Dan tak lupa, karakter Pak Raden dengan kumis melintang,
belangkon, bersuara keras dan galak. Inilah bukti kehebatan Pak Raden. Ia
sahabat sejati anak-anak.
Belajar dari Pak Raden
Pak Raden tak akan pernah
tergantikan. Namun, kita bisa belajar darinya – berkontribusi kepada dunia
anak. Indonesia butuh orang-orang sepertinya. Apalagi belakangan ini, banyak
kekerasan pada anak Indonesia seperti pelecehan seksual dan pembunuhan.
Predator anak kian marak. Tak ada lagi tempat aman bagi anak-anak baik sekolah,
masyarakat bahkan keluarga sekalipun. Buktinya, kasus pembunuhan Angeline di
Bali dan Putri di Kalideres Jakarta, kasus sodomi di sekolah Jakarta
International School (JIS) bisa terjadi. Indonesia kini darurat kekerasan anak.
Bahkan di Asia, Indonesia menempati peringkat pertama kasus kekerasan anak. Oleh
karena itu, ada beberapa hal yang patut dicontoh dari sosok Pak Raden untuk
memperbaiki nasib masa depan anak kita.
Pertama, penyayang anak kecil. Kecintaan Pak Raden pada anak-anak melalui karyanya
benar-benar tulus, bukan karena ingin meraup uang. Baginya, anak merupakan
titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibentuk menjadi generasi yang sehat jasmani,
rohani dan akhlak. Di masanya, psikologi anak bisa dikatakan tercukupi dengan
hiburan dari karya-karyanya. Sekarang? Pelecehan seksual dan pembunuhan pada
anak seakan sudah menjadi sebuah budaya. Komnas Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) melaporkan kekerasan anak tiap tahunnya meningkat: 2011 (2178 kasus),
2012 (3512 kasus), 2013 (4311 kasus) dan 2014 (5066 kasus). Kasus itu meliputi
pemukulan hingga luka, pelecehan seksual hingga pembunuhan.
Lalu, kemana lagi anak
berlindung? Kita perlu belajar dari Pak Raden. Dia berkarya untuk masa depan
anak yang lebih baik. Saya yakin, semua orang yang menonton Si Unyil dulunya
pasti memiliki masa kecil yang indah dan berwarna. Sudah saatnya melindungi anak-anak kita, bisa
diawali dari lingkungan keluarga. Orangtua harus menjamin ketercukupan
kebutuhan psikologis dan materi si anak. Orangtua mesti memberi waktu
berkualitas kepada anak, jangan ‘menyibukkan diri’ dengan pekerjaan saja. Kemudian,
jangan pernah mengeksploitasi anak
sebagai pemulung, pengamen dan pengemis dan jenis pekerjaan lainnya. Karena hal itu
juga melanggar HAM anak yang tertuang dalam UU No. 35 tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak. Namun apa daya, rakyat tak mengerti hukum, wajar saja
eksploitasi ini terus terjadi. Bahkan pemerintah sendiri pun seakan tak peka
akan hal ini. Banyak pekerja anak kecil yang berkeliaran namun tak
ditindaklanjuti. Demikian juga di sekolah, guru harus benar-benar mendidik dan
melengkapi anak dengan pengetahuan dan akhlak yang baik agar tak terjadi
perkelahian yang merujung luka dan kematian.
Kedua, tak mudah mengeluh. Banyak orang mengira Pak Raden punya banyak harta
dari karya-karyanya. Anggapan itu salah, nyatanya hidup beliau serba pas-pasan,
rumah pun tak punya. Ia menumpang di rumah saudaranya. Namun ia tak mengeluh.
Ia tetap fokus berkarya hingga menghasilkan ratusan lukisan. Ia juga tak
menuntut apa-apa dari pemerintah atas jasanya bagi anak-anak Indonesia. Berbeda
dengan kita, mengeluh menjadi kata gampangan keluar dari mulut kita. Tak mau
bekerja keras namun ingin cepat kaya. Tak heran, banyak dari kita mengambil
jalan pintas sebagai maling/pencuri, begal, pembobol ATM, perampok, pengedar
narkoba dll. Kita semakin serakah, tak pernah bersyukur dengan apa yang kita
miliki padahal masih memiliki anggota tubuh yang lengkap yang bisa diupayakan
untuk mencari nafkah.
Begitu miris. Bukan saatnya lagi
berleha-leha dan bermanjaria di zaman post-modernisme ini. Belajar dari Pak Raden, mari lebih memaksimalkan tenaga dan
intelijensi yang kita miliki untuk menuju hidup yang sejahtera tanpa harus
mengeluh. Beliau saja bisa bertahan hidup hingga 83 tahun dan berkaya selama 60 tahun lebih tanpa
mengeluh, apalagilah kita yang masih punya banyak kesempatan untuk hidup lebih
layak.
Ketiga, penyayang hewan. Beliau suka dengan hewan
terutama kucing. Pasca wafatnya beliau, saudara Pak Raden menunjukkan beberapa
kucing beranak yang ada di kamar beliau melalui tayangan infotainment di televisi.
Saudaranya tersebut berujar bahwa Pak Raden sangat menyayangi hewan. Sejenak
saya merenung, bagaimana dengan kita sekarang. Sudahkah kita menyayangi hewan?
Sepanjang 2015 ini, kita banyak digegerkan dengan foto-foto pemburuan hewan
yang dilindungi. Ada begitu banyak beruang madu, kucing hutan, gajah, dll yang
diburu untuk dijadikan makanan dan kepentingan lain. Entah siapa yang patut
disalahkan, pemerintah yang lengah mengawasi atau rakyat yang tak tahu menahu
peraturan. Padahal perilaku itu jelas-jelas melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Keempat, cinta dengan budaya
sendiri. Saudara Pak Raden itu melanjutkan bahwa beliau tiada hari tanpa mendengar
lagu-lagu daerahnya (Jawa). Saat melukis sekalipun, lagu-lagu itu selalu
menemaninya. Kecintaanya pada budaya dan tradisi sukunya tentu patut dipuji.
Berbeda dengan generasi masa kini yang terus tergerus arus negatif dari
globalisasi. Sudah banyak yang tak menyukai budaya, tarian, lagu daerah dan tradisi
lainnya. Lihat saja, sudah banyak anak muda yang malu menggunakan bahasa
daerahnya karena tak mau dianggap kampungan. Saya pikir, kita perlu
membangkitkan kembali budaya, musik dan tradisi suku kita. Kita harusnya bangga
memiliki bergelimang keragaman yang menjadi ciri khas negara Indonesia yang tak
dimiliki negara manapun di dunia. Orang barat saja ke Indonesia untuk kenal
batik, gamelan, angklung, dan seluruh budaya kita, masa kita tak mau?
Tak ada kata terlambat untuk
sebuah perbaikan. Belajar itu seumur hidup. Mari belajar dari Pak Raden yang
sudah melakukannya terlebih dahulu. Satu pesannya sekaligus motto hidupnya
yaitu “Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan Cinta”. Beliau telah banyak
berkarya dengan cinta untuk kita. Kita pun perlu melakukannya dalam konteks
saat ini. Harapannya, Nasib Indonesia bisa lebih baik ke depan terutama
kehidupan anak-anak. Akhir kata, biarlah semua keteladanan Pak Raden ini tetap
kita warisi dan kita kembangkan.
Selamat jalan Pak Raden.
Terimakasih telah membuat masa kecil kami indah dan berwarna dengan karyamu…
Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar