Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Waspada Online, Kamis 30 Juli 2015
Usia pemerintahan Jokowi-JK kini sudah menginjak lebih kurang
sembilan bulan sejak dilantik. Artinya, masyarakat sudah bisa memberi
penilaian terhadap kinerja pemerintahannya khususnya menteri-menteri
dalam kabinet kerjanya. Terkait hal itu, beberapa waktu terakhir, wacana
perombakan kabinet (reshuffle) semakin menguat. Itu pertanda bahwa ada
banyak desakan dari berbagai unsur supaya terjadi perubahan posisi
jabatan pada kabinet kerja Jokowi. Suara tersebut tidak hanya datang
dari partai politik tetapi juga dari elemen masyarakat.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan berbagai lembaga survei di
Indonesia seperti Litbang Kompas. Secara umum masyarakat menilai kinerja
kabinet pemerintahan Jokowi-JK tidak memuaskan. Setidaknya, tiga dari
lima responden yang menjadi sumber mengatakan tidak puas. Di sisi lain,
lebih dari setengah masyarakat menilai puas pada 3 kementerian kabinet
kerja Jokowi.
Pertama, di bidang pembangunan. Hampir setengah dari masyarakat
menilai puas terhadap kinerja kabinet Jokowi dalam membangun
infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang dinilai puas tersebut
mencakup transportasi, jalan raya, waduk, dan tak terkecuali penyediaan
sarana perumahan bagi rakyat. Meski sebagian pembangunan infrastruktur
merupakan kelanjutan dari program kabinet pemerintahan SBY, percepatan
pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan mendapat dukungan publik.
Kedua, di bidang pendidikan. Lebih dari setengah masyarakat merasa
puas dengan kinerja kabinet kerja bidang pendidikan. Keputusan Anies
Baswedan selaku Mendikbud yang menetapkan Ujian Nasional (UN) bukan
satu-satunya syarat penentu kelulusan siswa dianggap sebagai keputusan
yang tepat dalam memperbaiki mutu pendidikan secara perlahan.
Ketiga, di bidang kesehatan. Setengah dari masyarakat menilai puas
dengan pelayanan kesehatan yang dilakukan pemerintahan Jokowi. Program
Kartu Indonesia Sehat yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) dipandang sebagai langkah konkret pemerintah dalam
menjamin pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Walau belum terealisasi
secara total, namun kehadiran program ini setidaknya dinilai positif
oleh publik.
Keempat, bidang Kemaritiman. Banyak masyarakat mengapresiasi kinerja
Indroyono Soesilo selaku menteri bidang kemaritiman tersebut. Hal ini
terkait erat dengan penilaian positif terhadap kinerja Menteri Kelautan
dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Dari 34 menteri dalam kabinet,
masyarakat menilai kinerja Menteri Kelautan dan Perikanan yang paling
baik.
Sorotan dan Penilaian
Namun, tidak bisa ditutupi bahwa masih ada beberapa kementerian yang mendapat dorotan dan penilaian yang tidak memuaskan dari masyarakat. Pertama, di bidang perekonomian. Lebih dari setengah masyarakat menilai tidak puas dengan kinerja menteri bidang perekonomian dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Harga beras yang melonjak tinggi, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang terus merosot, dan harga bahan bakar yang cenderung terus naik menjadi bahan referensi penilaian masyarakat terhadap kementerian tersebut.
Namun, tidak bisa ditutupi bahwa masih ada beberapa kementerian yang mendapat dorotan dan penilaian yang tidak memuaskan dari masyarakat. Pertama, di bidang perekonomian. Lebih dari setengah masyarakat menilai tidak puas dengan kinerja menteri bidang perekonomian dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Harga beras yang melonjak tinggi, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang terus merosot, dan harga bahan bakar yang cenderung terus naik menjadi bahan referensi penilaian masyarakat terhadap kementerian tersebut.
Kedua, Hak mendapatkan keadilan. Masyarakat menilai bahwa selama ini
pemerintahan Jokowi masih belum berdampak besar dalam menegakkan
keadilan di tanah air. Hukum masih tetap dipandang tajam ke bawah dan
tumpul ke atas. Contohnya dalam tindak pemberantasan korupsi. Kasus
korupsi di tanah air tetap merajalela bahkan terus melambung naik. Lagi,
Kasus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versus Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Polri) yang mencuat beberapa waktu lalu menunjukkan
lemahnya koordinasi dan komunikasi di antara lembaga negara yang
mengampu bidang hukum.
Ketiga, kinerja kementerian yang dijabat oleh Puan Maharani yakni
bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan juga tak memuaskan. Walaupun
program kerja kementerian di bawah koordinasinya, yakni Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Kesehatan, mendapat sambutan
baik dan dinilai positif, namun fungsi koordinasi dari kementerian ini
tidak terlalu berdampak kepada masyarakat.
Keempat, penilaian serupa dituai Menko Bidang Politik, Hukum, dan
Keamanan yang dipimpin Tedjo Edhy Purdijatno. Sebagai pembantu Presiden,
kinerja kementerian ini belum ada yang menonjol. Alih-alih mendapat
apresiasi, Tedjo sempat menuai kecaman saat konflik KPK versus Polri
Januari silam. Beberapa pernyataan beliau sempat menimbulkan polemik.
Reshuffle
Penulis menilai, ketidakmaksimalan kinerja menteri kabinet kerja Jokowi ditengarai komposisi kabinet yang kurang tepat. Ada beberapa posisi kementerian sekarang yang dipimpin oleh menteri yang tidak profesional di bidangnya. Yang pasti, latar belakang menteri yang berasal dari independen (non partai) atau berasal dari partai bukan pemicu ketidakmaksimalan tersebut.
Penulis menilai, ketidakmaksimalan kinerja menteri kabinet kerja Jokowi ditengarai komposisi kabinet yang kurang tepat. Ada beberapa posisi kementerian sekarang yang dipimpin oleh menteri yang tidak profesional di bidangnya. Yang pasti, latar belakang menteri yang berasal dari independen (non partai) atau berasal dari partai bukan pemicu ketidakmaksimalan tersebut.
Dengan alasan-alasan tersebut, muncul wacana di pemerintahan dan
elemen masyarakat agar Jokowi segera merombak (reshuffle) komposisi
kabinet kerja. Dalam hal perombakan komposisi, Jokowi selaku presiden
seharusnya lebih teliti dalam mendalami kompetensi tiap tiap menteri
yang beliau pilih. Baik bersumber dari masyarakat (independen) ataupun
dari partai tidak menjadi persoalan. Yang terpenting, bidang yang
digeluti tiap menteri nantinya mudah dipahami dan dikerjakan dengan
lebih cepat dan maksimal.
Kita selaku masyarakat sering memandang perombakan kabinet
(reshuffle) merupakan bentuk kelemahan dan kelalaian pemerintah. Kita
perlu merubah pola pemikiran demikian. Reshuffle bukanlah bentuk
kelalaian dan hal ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi
juga di negara-negara lain. Kita juga perlu mengapresiasi tiap menteri
yang sepanjang beberapa bulan ini telah memaksimalkan kinerjanya di
bidang kementerian yang diamanatkan. Reshuffle kabinet yang sering kita
seru-serukan selama ini sebaiknya kita jadikan sebagai kepedulian kita
untuk perbaikan negeri ke depannya bukan untuk menjatuhkan pemerintah
dalam kinerjanya.
Jika benar dalam beberapa waktu ke depan, Jokowi akan merombak
kabinetnya, mari kita dukung dan apreasiasi. Semoga reshuffle tersebut
nantinya mampu menghadirkan sosok menteri yang kompeten, bukan kompromi
politik, agar mampu membawa perubahan yang berarti bagi negara
Indonesia.
Penulis adalah Pemerhati Masalah Ekonomi, Politik, Pendidikan dan Sosial. Staf Pengajar di Quantum College Medan. Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia. Alumnus Universitas Negeri Medan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar