\
Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Medan Bisnis Daily, Senin 27 Juli 2015
Saat nilai tukar rupiah dan harga saham anjlok, seringkali kita beranggapan bahwa perekonomian di negara Indonesia akan
jatuh terpuruk. Tidak bisa dimungkiri, pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada triwulan I-2015 nyatanya hanya berada di level 4,7 %, kecil jika
dibandingkan dengan perkiraan 5,1 %. Akan tetapi, pertumbuhan 4,7 % itu
sesungguhnya masih tergolong aman.
Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi sangat
diperlukan untuk mendorong terciptanya lapangan kerja yang memadai. Hal
ini urgen untuk direalisasikan sesegera mungkin karena tiap tahunnya,
negara mesti menampung jumlah angkatan kerja sebanyak lebih kurang 2
juta orang. Apalagi sekarang ini, pengangguran makin merajalela.
Terdata, jumlah pengangguran sekarang telah mencapai lebih kurang 11
juta orang. Lagi-lagi pertumbuhan ekonomi cepat dan tinggi sangat
dibutuhkan untuk menjawab permasalahan ini.
Seperti yang sudah dijelaskan para pejabat yang berwenang dan mengerjakan bagian perekonomian negara, terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi ditengarai harga komoditas yang kian melemah di pasar global. Alhasil, kondisi ini membuat konsumsi dalam negeri juga semakin melemah. Padahal selama ini, konsumsi dan ekspor yang menjadi andalan utama tersebut sangat mendorong laju pertumbuhan ekonomi kita. Tentu, pemerintah dan semua pemangku kepentingan di negara ini harus melakukan gebrakan dan tindakan nyata untuk menjaga dan menumbuhkan stabilitas perekonomian Indonesia.
Konsumsi merupakan bagian yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi negara kita, Indonesia. Meskipun begitu, dipikir perlu dikritisi bahwa konsumsi ini tidak menumbuhkan kegiatan manufaktur dan produksi di dalam negeri. Pasalnya, konsumsi yang ada saat ini malah lebih banyak dipenuhi barang-barang impor. Mirisnya, barang-barang impor tersebut merupakan barang yang sesungguhnya bisa kita produksi banyak di dalam negeri seperti bawang, daging sapi, garam, buah-buahan, ikan, hingga berbagai produk tekstil.
Maka dari itu, tidak heran lebih sering terjadi defisit neraca perdagangan akibat ekspor yang kalah besar dibanding impor. Pasalnya, semua konsumsi kelas menengah Indonesia yang besar sebagian besar merupakan hasil impor. Akibatnya, kegiatan produksi dalam negeri jadi diabaikan dan tidak digairahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang besar tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah harus fokus membenahi perekonomian dalam negeri melalui peningkatan produksi. Karena cara itu akan bisa memberikan nilai tambah yang nantinya akan menjadi pendorong konsumsi di dalam negeri. Contohnya, harga minyak kelapa sawit yang sedang rendah di pasar global seharusnya bisa dimbangi dengan menambah mandatori penggunaan biodiesel untuk keperluan bahan bakar mobil diesel. Harga minyak sawit mentah juga bisa terdongkrak.
Suatu yang sangat kasatmata, perlu mendorong manufaktur yang menghasilkan produk substitusi impor. Daging sapi, garam, buah-buahan, ikan, dan produk tekstil berkualitas yang selama ini dipenuhi dari impor sudah saatnya diganti dengan produksi dari dalam negeri sendiri. Tentu saja perlu diberikan insentif dan kemudahan berusaha di dalam negeri. Investasi asing ataupun dalam negeri juga perlu didorong ke arah ini.
Fakta mengatakan, banyak kegiatan produksi di dalam negeri lebih memilih mengimpor karena iklim usaha yang tidak memadai. Ekonomi biaya tinggi, berbagai pungutan liar yang tak jelas hitam putihnya, biaya logistik yang tinggi karena infrastruktur yang bobrok membuat iklim usaha di dalam negeri jauh dari menguntungkan. Kalau sudah demikian, bukan saja penyerapan tenaga kerja terganggu, melainkan penerimaan pajak juga tergerus. Berbagai ekonomi kecil yang hidup karena kegiatan pabrik juga terancam berhenti.
Oleh karena itu, langkah pemerintah untuk mendorong produksi dalam negeri yang menghasilkan produk substitusi impor harus terus digencarkan. Langkah ini baik untuk mencegah devisa keluar di saat ekspor yang menghasilkan devisa belum bisa berbuat banyak. Sektor pariwisata juga saatnya didorong untuk menjadi pemasok utama devisa. Pariwisata jelas penuh dengan kandungan lokal. Pasokan devisa dari para pekerja di luar negeri juga perlu didorong.
Dengan berkaca dari kondisi perekonomian Indonesia saat ini, semoga semua pihak di negeri ini menjadi fokus untuk meningkatkan produksi di dalam negeri. Dan fokus ini harus dilakukan secara kontinu, bukan sesaat. Saatnya keperluan dalam negeri dipenuhi diproduksi dari dalam juga.
Seperti yang sudah dijelaskan para pejabat yang berwenang dan mengerjakan bagian perekonomian negara, terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi ditengarai harga komoditas yang kian melemah di pasar global. Alhasil, kondisi ini membuat konsumsi dalam negeri juga semakin melemah. Padahal selama ini, konsumsi dan ekspor yang menjadi andalan utama tersebut sangat mendorong laju pertumbuhan ekonomi kita. Tentu, pemerintah dan semua pemangku kepentingan di negara ini harus melakukan gebrakan dan tindakan nyata untuk menjaga dan menumbuhkan stabilitas perekonomian Indonesia.
Konsumsi merupakan bagian yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi negara kita, Indonesia. Meskipun begitu, dipikir perlu dikritisi bahwa konsumsi ini tidak menumbuhkan kegiatan manufaktur dan produksi di dalam negeri. Pasalnya, konsumsi yang ada saat ini malah lebih banyak dipenuhi barang-barang impor. Mirisnya, barang-barang impor tersebut merupakan barang yang sesungguhnya bisa kita produksi banyak di dalam negeri seperti bawang, daging sapi, garam, buah-buahan, ikan, hingga berbagai produk tekstil.
Maka dari itu, tidak heran lebih sering terjadi defisit neraca perdagangan akibat ekspor yang kalah besar dibanding impor. Pasalnya, semua konsumsi kelas menengah Indonesia yang besar sebagian besar merupakan hasil impor. Akibatnya, kegiatan produksi dalam negeri jadi diabaikan dan tidak digairahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang besar tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah harus fokus membenahi perekonomian dalam negeri melalui peningkatan produksi. Karena cara itu akan bisa memberikan nilai tambah yang nantinya akan menjadi pendorong konsumsi di dalam negeri. Contohnya, harga minyak kelapa sawit yang sedang rendah di pasar global seharusnya bisa dimbangi dengan menambah mandatori penggunaan biodiesel untuk keperluan bahan bakar mobil diesel. Harga minyak sawit mentah juga bisa terdongkrak.
Suatu yang sangat kasatmata, perlu mendorong manufaktur yang menghasilkan produk substitusi impor. Daging sapi, garam, buah-buahan, ikan, dan produk tekstil berkualitas yang selama ini dipenuhi dari impor sudah saatnya diganti dengan produksi dari dalam negeri sendiri. Tentu saja perlu diberikan insentif dan kemudahan berusaha di dalam negeri. Investasi asing ataupun dalam negeri juga perlu didorong ke arah ini.
Fakta mengatakan, banyak kegiatan produksi di dalam negeri lebih memilih mengimpor karena iklim usaha yang tidak memadai. Ekonomi biaya tinggi, berbagai pungutan liar yang tak jelas hitam putihnya, biaya logistik yang tinggi karena infrastruktur yang bobrok membuat iklim usaha di dalam negeri jauh dari menguntungkan. Kalau sudah demikian, bukan saja penyerapan tenaga kerja terganggu, melainkan penerimaan pajak juga tergerus. Berbagai ekonomi kecil yang hidup karena kegiatan pabrik juga terancam berhenti.
Oleh karena itu, langkah pemerintah untuk mendorong produksi dalam negeri yang menghasilkan produk substitusi impor harus terus digencarkan. Langkah ini baik untuk mencegah devisa keluar di saat ekspor yang menghasilkan devisa belum bisa berbuat banyak. Sektor pariwisata juga saatnya didorong untuk menjadi pemasok utama devisa. Pariwisata jelas penuh dengan kandungan lokal. Pasokan devisa dari para pekerja di luar negeri juga perlu didorong.
Dengan berkaca dari kondisi perekonomian Indonesia saat ini, semoga semua pihak di negeri ini menjadi fokus untuk meningkatkan produksi di dalam negeri. Dan fokus ini harus dilakukan secara kontinu, bukan sesaat. Saatnya keperluan dalam negeri dipenuhi diproduksi dari dalam juga.
(Penulis adalah pemerhati Masalah
Ekonomi, Pendidikan dan Sosial dan Politik, Staf Pengajar di Quantum
College Medan, Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia, Alumnus
Universitas Negeri Medan.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar