Jumat, 31 Juli 2015

MOS Harus Dihentikan


Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Waspada Online, Rabu 29 Juli 2015
 
Kini, sekolah di seluruh nusantara mulai memasuki tahun ajaran baru 2015/2016. Bangku-bangku di sekolah pun kembali diduduki oleh wajah-wajah baru. Sekolah pastinya menyambut baik kehadiran para generasi bangsa tersebut. Berbagai cara penyambutan pasti sudah jauh hari direncanakan secara matang oleh pihak sekolah. Salah satu program rutin yang diadakan sekolah adalah Masa Orientasi Siswa (MOS). Dalam hal ini, MOS biasanya dieksekusi oleh siswa-siswi senior di sekolah.

Mengacu pada Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), orientasi didefinisikan sebagai
peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang tepat dan benar. Nah, jika sebuah sekolah memberlakukan MOS kepada siswa-siswi baru, artinya sekolah berniat untuk membentuk sikap siswa supaya (1) siswa terarah ke arah yang benar sebagaimana ia siswa. Siswa diarahkan agar semakin mengenali seluruh unsur di dalam sekolah yang ia masuki mulai dari struktur kepengurusan sekolah, peraturan dan kurikulum. Siswa juga diarahkan agar memiliki sikap sopan santun kepada kepala sekolah, guru-guru, siswa senior bahkan tukang bersih taman atau cleaning service sekalipun. (2) siswa lebih mengenali lingkungan sekolahnya seperti letak ruang kepala sekolah, ruang guru, kelas belajar, perpustakaan, laboratorium, toilet, taman, dan lain-lain.

Yang diharapkan dari kegiatan MOS pastinya agar siswa benar-benar dekat dengan unsur di sekolah dan bisa nyaman belajar saat Proses Belajar Mengajar (PBM) dimulai. Jika tujuan MOS sejatinya tercapai, maka siswa-siswi di seluruh sekolah di Indonesia akan benar-benar terarah. Alhasil, mereka pun akan selalu kangen ke sekolah untuk bertemu dengan guru serta teman siswa lainnya. Pada akhirnya, sekolah bisa menjadi rumah kedua yang nyaman bagi mereka selain rumah mereka sendiri.

Bukan Orientasi
Saat diwawancarai awak media di Jakarta beberapa waktu lalu, Mendikbud RI Anies Baswedan memerintahkan kepada seluruh sekolah di Indonesia agar tidak melakukan MOS yang menimbulkan kekerasan, pelecehan seksual dan hal-hal yang tidak mendidik. Namun, yang terjadi di lapangan kontradiktif. Masih banyak ditemukan sekolah yang tidak mengerjakan MOS dengan tidak benar. Hari kedua masuk sekolah saat berlangsungnya MOS, seorang siswa SMP di Bandung pingsan karena dibiarkan dibawah terik matahari selama MOS berlangsung. MOS pun tidak lagi untuk orientasi melainkan disorientasi. Penulis menamainya MOS Sampah.

KBBI mengartikan disorientasi sebagai kekacauan kiblat atau kesamaran arah. Ya, MOS sudah tidak terarah lagi. MOS sering kali diwujudkan dalam bentuk bentakan, bully-an, amarah dan pukulan dari kakak senior yang menyebabkan gangguan psikologis siswa baru. Panitia sering menyuruh siswa baru membawa aksesoris yang tidak penting seperti membawa petai sebagai kalung, potongan bola kaki sebagai topi, tali plastik sebagai gelang dan ikat rambut dan tepung untuk wajah. Selain itu, siswa baru harus lebih awal di sekolah dan jika telat, akan dipermalukan di hadapan siswa lainnya. Saat MOS berlangsung, panitia sering berbuat aneh seperti memaksa siswa menari di hadapan teman dan menyatakan cinta kepada senior. Ujungnya, siswa bukan kerasan melainkan kapok.

Tugas lain sekolah pada kegiatan MOS yakni memperkenalkan lingkungan sekolah (fasilitas) dan mengajarkan siswa agar peduli lingkungan. Jadi ketika MOS berakhir, siswa bisa peduli dan menjaga lingkungan sekolah, menjaga kebersihan dan higenitas sekolah serta melestarikan tanaman di sekolah. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan hal tersebut. Sekolah bukan fokus memberikan informasi seputar lingkungan sekolah. Panitia yang merupakan senior kelas malah menjahilin dengan cara sengaja mengotori toilet (WC), kemudian menyuruh siswa baru untuk membersihkannya dengan waktu terbatas. Tentu, siswa tidak akan bisa merampungkannya tepat waktu. Pada akhirnya hukuman pun diberi seperti berjalan jongkok keliling lapangan sekolah. Dilihat dari sisi edukasinya, kegiatan itu sama sekali tidak mendidik. Masih banyak lagi aktivitas MOS yang tak mendidik lainnya.

Seyogyanya, sekolah harus mengevaluasi konten MOS dan menggantinya dengan hal-hal yang mengedukasi siswa. Ada beberapa kegiatan yang bisa diisi sekolah pada MOS.

Pertama, membuat hari keakraban. Dalam hal ini, seluruh unsur sekolah terlibat mulai kepala sekolah, guru-guru dan siswa senior. Kegiatan dilakukan di sekolah tanpa menyuruh siswa membawa barang-barang tidak penting. Dalam keakraban itu, kegiatan seperti talkshow, pemberian arahan, dan cerita pengalaman siswa senior bisa diadakan supaya memotivasi siswa. Dampak positifnya, siswa mendapatkan informasi penting dan pelajaran moral. Selain itu, panitia bisa membuat berbagai permainan kreatif, interaktif dan edukatif supaya mendekatkan siswa baru dengan pihak sekolah. Misalnya, permainan menyatukan kata-kata bahasa inggris menjadi kalimat efektif atau mengadakan kuis bertajuk kebangsaan dan pastinya diberi reward. Selain terciptanya interaksi, siswa pun dididik dengan pengetahuan dan kepedulian terhadap negara.
Kedua, mengundang motivator. Sekolah bisa mengundang motivator dari luar atau dari dalam sekolah sendiri. Contohnya, mengundang mahasiswa berprestasi di sebuah universitas untuk memberi motivasi kepada siswa-siswi baru SMA agar nantinya termotivasi untuk berprestasi dan terdorong untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Kemudian mengundang siswa SMA berprestasi untuk memberikan motivasi kepada siswa-siswi baru di bangku SMP agar lebih serius belajar supaya bisa masuk sekolah SMA favorit. Demikian halnya dengan mengundang siswa SMP berprestasi kepada siswa-siswi baru sekolah dasar. Sekolah juga bisa mengundang dinas pendidikan daerah untuk memberikan motivasi, memperkenalkan lebih jauh kondisi pendidikan kita saat ini.

Selain itu, mengundang pihak kepolisian dan Badan Narkotika Nassional (BNN) untuk memberikan arahan agar selama jadi siswa, mereka tidak melakukan tindak kriminalitas, pergaulan bebas, seks bebas, dan bahkan menyentuh narkoba. Seperti yang kita ketahui, kini kehidupan siswa di Indonesia sudah semakin terkontrol. Kususnya, narkoba dan seks bebas sudah melilit kehidupannya. Nah melalui cara ini, tentu siswa jauh lebih mendapatkan ilmu dan motivasi yang bermanfaat.

Sudah tidak saatnya lagi kita membudayakan MOS sampah di lingkungan pendidikan kita. Kita harus memperbaiki pendidikan kita mulai dari hal-hal kecil seperti ini agar generasi bangsa ke depan bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik. Dan jika masih banyak sekolah tetap berkeras kepala, sebaiknya MOS di sekolah dihentikan.


Penulis adalah Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial, Ekonomi dan Politik. Staf Pengajar di Quantum College Medan. Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia. Alumnus Universitas Negeri Medan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar