Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Waspada Online, Rabu 29 Juli 2015
Kini, sekolah di seluruh nusantara mulai memasuki tahun ajaran baru
2015/2016. Bangku-bangku di sekolah pun kembali diduduki oleh
wajah-wajah baru. Sekolah pastinya menyambut baik kehadiran para
generasi bangsa tersebut. Berbagai cara penyambutan pasti sudah jauh
hari direncanakan secara matang oleh pihak sekolah. Salah satu program
rutin yang diadakan sekolah adalah Masa Orientasi Siswa (MOS). Dalam hal
ini, MOS biasanya dieksekusi oleh siswa-siswi senior di sekolah.
Mengacu pada Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), orientasi
didefinisikan sebagai
peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat,
dsb) yang tepat dan benar. Nah, jika sebuah sekolah memberlakukan MOS
kepada siswa-siswi baru, artinya sekolah berniat untuk membentuk sikap
siswa supaya (1) siswa terarah ke arah yang benar sebagaimana ia siswa.
Siswa diarahkan agar semakin mengenali seluruh unsur di dalam sekolah
yang ia masuki mulai dari struktur kepengurusan sekolah, peraturan dan
kurikulum. Siswa juga diarahkan agar memiliki sikap sopan santun kepada
kepala sekolah, guru-guru, siswa senior bahkan tukang bersih taman atau
cleaning service sekalipun. (2) siswa lebih mengenali lingkungan
sekolahnya seperti letak ruang kepala sekolah, ruang guru, kelas
belajar, perpustakaan, laboratorium, toilet, taman, dan lain-lain.
Yang diharapkan dari kegiatan MOS pastinya agar siswa benar-benar
dekat dengan unsur di sekolah dan bisa nyaman belajar saat Proses
Belajar Mengajar (PBM) dimulai. Jika tujuan MOS sejatinya tercapai, maka
siswa-siswi di seluruh sekolah di Indonesia akan benar-benar terarah.
Alhasil, mereka pun akan selalu kangen ke sekolah untuk bertemu dengan
guru serta teman siswa lainnya. Pada akhirnya, sekolah bisa menjadi
rumah kedua yang nyaman bagi mereka selain rumah mereka sendiri.
Bukan Orientasi
Saat diwawancarai awak media di Jakarta beberapa waktu lalu,
Mendikbud RI Anies Baswedan memerintahkan kepada seluruh sekolah di
Indonesia agar tidak melakukan MOS yang menimbulkan kekerasan, pelecehan
seksual dan hal-hal yang tidak mendidik. Namun, yang terjadi di
lapangan kontradiktif. Masih banyak ditemukan sekolah yang tidak
mengerjakan MOS dengan tidak benar. Hari kedua masuk sekolah saat
berlangsungnya MOS, seorang siswa SMP di Bandung pingsan karena
dibiarkan dibawah terik matahari selama MOS berlangsung. MOS pun tidak
lagi untuk orientasi melainkan disorientasi. Penulis menamainya MOS
Sampah.
KBBI mengartikan disorientasi sebagai kekacauan kiblat atau kesamaran
arah. Ya, MOS sudah tidak terarah lagi. MOS sering kali diwujudkan
dalam bentuk bentakan, bully-an, amarah dan pukulan dari kakak senior
yang menyebabkan gangguan psikologis siswa baru. Panitia sering menyuruh
siswa baru membawa aksesoris yang tidak penting seperti membawa petai
sebagai kalung, potongan bola kaki sebagai topi, tali plastik sebagai
gelang dan ikat rambut dan tepung untuk wajah. Selain itu, siswa baru
harus lebih awal di sekolah dan jika telat, akan dipermalukan di hadapan
siswa lainnya. Saat MOS berlangsung, panitia sering berbuat aneh
seperti memaksa siswa menari di hadapan teman dan menyatakan cinta
kepada senior. Ujungnya, siswa bukan kerasan melainkan kapok.
Tugas lain sekolah pada kegiatan MOS yakni memperkenalkan lingkungan
sekolah (fasilitas) dan mengajarkan siswa agar peduli lingkungan. Jadi
ketika MOS berakhir, siswa bisa peduli dan menjaga lingkungan sekolah,
menjaga kebersihan dan higenitas sekolah serta melestarikan tanaman di
sekolah. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan hal tersebut. Sekolah
bukan fokus memberikan informasi seputar lingkungan sekolah. Panitia
yang merupakan senior kelas malah menjahilin dengan cara sengaja
mengotori toilet (WC), kemudian menyuruh siswa baru untuk
membersihkannya dengan waktu terbatas. Tentu, siswa tidak akan bisa
merampungkannya tepat waktu. Pada akhirnya hukuman pun diberi seperti
berjalan jongkok keliling lapangan sekolah. Dilihat dari sisi
edukasinya, kegiatan itu sama sekali tidak mendidik. Masih banyak lagi
aktivitas MOS yang tak mendidik lainnya.
Seyogyanya, sekolah harus mengevaluasi konten MOS dan menggantinya
dengan hal-hal yang mengedukasi siswa. Ada beberapa kegiatan yang bisa
diisi sekolah pada MOS.
Pertama, membuat hari keakraban. Dalam hal ini, seluruh unsur sekolah
terlibat mulai kepala sekolah, guru-guru dan siswa senior. Kegiatan
dilakukan di sekolah tanpa menyuruh siswa membawa barang-barang tidak
penting. Dalam keakraban itu, kegiatan seperti talkshow, pemberian
arahan, dan cerita pengalaman siswa senior bisa diadakan supaya
memotivasi siswa. Dampak positifnya, siswa mendapatkan informasi penting
dan pelajaran moral. Selain itu, panitia bisa membuat berbagai
permainan kreatif, interaktif dan edukatif supaya mendekatkan siswa baru
dengan pihak sekolah. Misalnya, permainan menyatukan kata-kata bahasa
inggris menjadi kalimat efektif atau mengadakan kuis bertajuk kebangsaan
dan pastinya diberi reward. Selain terciptanya interaksi, siswa pun dididik dengan pengetahuan dan kepedulian terhadap negara.
Kedua, mengundang motivator. Sekolah bisa mengundang motivator dari
luar atau dari dalam sekolah sendiri. Contohnya, mengundang mahasiswa
berprestasi di sebuah universitas untuk memberi motivasi kepada
siswa-siswi baru SMA agar nantinya termotivasi untuk berprestasi dan
terdorong untuk mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Kemudian
mengundang siswa SMA berprestasi untuk memberikan motivasi kepada
siswa-siswi baru di bangku SMP agar lebih serius belajar supaya bisa
masuk sekolah SMA favorit. Demikian halnya dengan mengundang siswa SMP
berprestasi kepada siswa-siswi baru sekolah dasar. Sekolah juga bisa
mengundang dinas pendidikan daerah untuk memberikan motivasi,
memperkenalkan lebih jauh kondisi pendidikan kita saat ini.
Selain itu, mengundang pihak kepolisian dan Badan Narkotika Nassional
(BNN) untuk memberikan arahan agar selama jadi siswa, mereka tidak
melakukan tindak kriminalitas, pergaulan bebas, seks bebas, dan bahkan
menyentuh narkoba. Seperti yang kita ketahui, kini kehidupan siswa di
Indonesia sudah semakin terkontrol. Kususnya, narkoba dan seks bebas
sudah melilit kehidupannya. Nah melalui cara ini, tentu siswa jauh lebih
mendapatkan ilmu dan motivasi yang bermanfaat.
Sudah tidak saatnya lagi kita membudayakan MOS sampah di lingkungan
pendidikan kita. Kita harus memperbaiki pendidikan kita mulai dari
hal-hal kecil seperti ini agar generasi bangsa ke depan bisa membawa
Indonesia menjadi lebih baik. Dan jika masih banyak sekolah tetap
berkeras kepala, sebaiknya MOS di sekolah dihentikan.
Penulis adalah Pemerhati Masalah Pendidikan, Sosial, Ekonomi dan Politik. Staf Pengajar di Quantum College Medan. Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia. Alumnus Universitas Negeri Medan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar