Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Malut Post, 10 November 2015
Bangsa kita setiap tahun merayakan Hari Pahlawan pada 10 November. Pada
saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan
harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Kita
memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena tanggal tersebut 70 tahun
silam para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan para penjajah
Inggris di Surabaya.
Saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para
pejuang menggunakan bambu runcing. Namun, para pejuang kita tak pernah gentar
untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat itu
yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat
siaran-siarannya di radionya. Ruslan Abdul Gani yang meninggal beberapa tahun
lalu, adalah salah seorang pelaku sejarah waktu itu.
Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu
peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati
makna Hari Pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat
seremonial. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di
Surabaya waktu itu.
Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi
kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan
mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib
menundukkan kepada untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita
merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya berhenti disitu. Dalam mengisi
kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan
itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam
membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani?
Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti
keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kesatriaan?
Menghadapi situasi seperti sekarang
kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Dalam konteks
kita dapat mengisi makna Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tahun pada 10
November, termasuk pada hari ini. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak
pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil
dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kita mencatat beberapa wilayah di
Indonesia masih dihantui tindakan rasis dan terror. Kita membutuhkan orang yang
berani untuk menangkap pelakunya. Negeri kita sedang dililit kanker korupsi
yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita membutuhkan orang-orang yang berani
untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya
berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Seorang petugas
pemadam kebakaran yang tewas saat berjuang mematikan api yang sedang membakar
rumah penduduk juga adalah pahlawan.
Setiap orang harus berjuang untuk
menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November saja,
tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang
paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya,
kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan
masing-masing. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas ditembak belasan tahun
lalu saat rezim orde baru berkuasa adalah pahlawan, meskipun negara belum
menobatkan mereka sebagai pahlawan.
Memang tidak mudah untuk menjadi
pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan bakiak, yaitu suami
yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan kesiangan, yakni
orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir
atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah
peperangan selesai menyatakan diri pejuang.
Hari ini kita merayakan Hari Pahlawan
untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Mari bertanya pada diri
sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri kita dalam
bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas
dan wajar. Jika iya, Itulah pahlawan sekarang.
Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar