Jumat, 20 November 2015

Kota Medan Kian Karut Marut



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Harian Analisa, 7 November 2015 

Sebagai salah satu kota terbesar di indonesia, kota Medan selalu menjadi sorotan bagi kota-kota lain di nusantara mulai dari kehidupan masyarakat maupun tatanan kotanya. Kota ini pun diharapkan bisa menjadi contoh bagi kota-kota kecil yang masih dalam proses perkembangan. Namun sejauh ini kota Medan belum bisa dijadikan kota yang nyaman untuk dihuni. Wajah kota ini dari waktu ke waktu kian karut marut.

Banyak permasalahan yang belum dituntaskan mulai dari kemacetan, pemasangan iklan asal-asalan, pemadaman listrik dan tata pemarkiran kendaraan yang tidak teratur. Entahlah, sepertinya pemerintah kota ini masih nyaman-nyaman saja menyaksikan kekarut-marutan itu.

Pertama, kemacetan. Secara geografis, kota Medan hanya seperlima dari kota Jakarta. Artinya tingkat kemacetan di kota ini seharusnya juga seperlima dari kemacetan Jakarta. Namun yang terlihat berbeda, kota ini dari waktu ke waktu kian macet. Banyak titik yang menjadi sumber kemacetan terparah seperti Aksara, HM. Yamin, Gatot Subroto, Iskandar Muda, Thamrin, Pasar Sukarame, Padang Bulan, Simpang Pos, SM. Raja, Letjen Sudjono, Jl. Putri Hijau, Simalingkar dan lain-lain.

Contohnya, jika berpatokan pada denah dinas perhubungan, dari tempat tinggal saya Jl. Pancing ke lokasi kerja Jl. Darussalam, seharusnya saya hanya menghabiskan waktu paling lama 37 menit naik angkutan umum. Nyatanya saya tiap harinya menghabiskan waktu satu jam (lebih) untuk sampai di tempat kerja. Bukan karena supir yang lambat, tapi karena kemacetan di jalan yang saya lalui semakin parah. Bahkan kemacetan panjang bias terjadi dari satu lampu lalu lintas ke lampu lintas lainnya.

Kemacetan di Medan diperparah dengan meningkatnya volume kendaraan tiap harinya. Selain itu, bahu jalan yang harusnya bisa dilalui 2 kendaraan roda empat sekaligus per ruasnya kini tidak bisa lagi. Pasalnya, pedagang kaki lima yang mengambil bahu jalan semakin marak. Alhasil, kecametan pun tak terelakkan.

Kemudian, kemacetan di kota ini juga tak luput dari tata letak pasar yang tepat mengenai ruas jalan. Setiap kali saya ke terminal Amplas dengan melewati Pasar Sukarame dan Pasar SM. Raja, kemacetan sudah menjadi tontonan wajib disana. Para pedagang mengambil setengah dari jalan. Awalnya saya berpikir, pembangunan gedung baru di pasar Sukarame akan mengurangi kemacetan di daerah itu. Nyatanya tidak, kemacetan tetap terjadi karena para pedagang masih ramai berjualan di bahu jalan. Di Pasar SM Raja pun sama saja.

Harusnya, pemerintah dari sekarang mulai menata kembali penempatan pasar tradisional agar tidak mengganggu tempat publik lainnya. Pemerintah harus tegas melarang para pedagang kaki lima di pinggiran jalan kota agar tidak lagi mengambil bahu jalan saat berjualan. Jika perlu, pemerintah merelokasi pasar ke tempat yang lebih tepat tanpa mengurangi pendapatan pedagang. Sebab jika kemacetan ini tetap terjadi, kerugian material dan waktu akan jauh lebih banyak.

Kedua, buruknya peletakan iklan/spanduk. Banyak oknum memasang spanduk asal-asalan di sepanjang jalan di kota Medan. Pemandangan itu sangat mengganggu mata. Hal itu juga membuat kota ini terlihat kotor dan tak terawat. Pemerintah harus tegas dan memberi sanksi kepada perusahaan, pemilik gedung dan oknum lain yang memasang iklan asal-asalan. Harapannya, kota ini bisa elok dipandang.

Ketiga, tata pemarkiran kendaraan tak teratur. Hampir di sepanjang jalan di kota Medan ini menjadi lahan parkir. Selalu saja ada kendaraan terparkir di ruas jalan. Hal ini juga  menyebabkan kemacetan terjadi. Kemudian, kini ada banyak rumah toko yang tak memiliki lahan parkir sedikitpun. Imbasnya, ruas jalan pun dipakai. Dinas perhubungan harus tegas dan memberi sanksi kepada pemarkir liar di jalanan.

Keempat, pemadaman listrik. Negara Indonesia dikenal dengan alamnya yang kaya. Untuk menghasilkan listrik bukanlah hal sulit bagi negeri ini. Ada banyak sumber energi listrik seperti angin, air (terjun), sungai dan sinar surya yang bisa dimanfaatkan. Namun, kota ini seakan tidak pernah luput dari pemadaman listrik (black out).

Tanpa ada pemberitahuan, listrik sering padam hingga berkali-kali dalam sehari dengan durasi berjam-jam. Hal ini membuat aktifitas sehari-hari terganggu. Pemilik usaha pun jadi rugi. Akibat pemadaman listrik ini juga, kemacetan di titik-titik lampu lalu lintas menjadi macet. Para pengendara semakin tidak tearah. Tat kala hal itu menimbulkan percekcokan diantara pengendara dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Sebagaimana motto hari kemerdekaan Indonesia ke-70 “Ayo Kerja”, itulah harusnya yang dipegang teguh oleh pemerintah kota ini. Sudah saatnya pemerintah memikirkan tindakan antisipatif dan solutif untuk mengatasi berbagai permasalahan di kota ini. Kita berharap, para pejabat kota ini masih mau meringankan tangan untuk kerja kerja dan kerja membenahi Medan.

Semoga ke depan, tidak ada lagi kemacetan, parkir liar, iklan asal-asalan dan pemadaman listrik. Dengan begitu, kota Medan ini bisa menjadi kota impian, layak huni dan selalu dirindukan oleh semua orang.

Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar