Jumat, 20 November 2015

Kesatuan Dunia Melawan Teroris



Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Malut Post, 18 November 2015 

Aksi terorisme kembali mengguncang dunia dan kali ini terjadi di Paris, Perancis. Serangan tersebut terjadi pada Jumat (13/11) malam akhir pecan lalu. Serangan itu tidak hanya menimbulkan luka dalam bagi keluarga korban. Kejadian itu juga membuat seluruh masyarakat dunia berkabung. Aksi teror itu sedikitnya menewaskan 153 jiwa. Teror kemanusiaan itu merupakan perbuatan brutal, barbar dan tidak berperikemanusiaan karena telah membunuh ratusan warga yang tak bersalah.

Para pemimpin dunia pun dengan cepat memberikan dukungan kepada Prancis  dan berjanji akan membantu negara itu dalam menghadapi persoalan-persoalan seputar teror yang mereka alami. Dalam berbagai kesempatan. Para pemimpin itu juga menyampaikan rasa belasungkawanya atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedy itu.

Perbuatan teroris yang mengklaim dirinya sebagai organisasi radikal Islamic State of Iraq and Syria alias ISIS tersebut telah menimbulkan kemarahan dan kecaman masyarakat dunia. Seluruh negara kini semakin bersatu hati mengecam aksi biadab para teroris itu karena tindakan brutalnya tidak bisa ditoleransi sama sekali dengan alasan apapun. Perbuatan itu tak bisa diterima dunia karena serangan penembakan dan pengeboman yang membabi buta menewaskan warga tak bersalah.

Masyarakat yang menjadi korban penembakan dan ledakan bom itu tak seharusnya meninggal atau mati sia-sia akibat perbuatan orang biadab. Sampai saat ini, kita belum tahu apa alasan ISIS menjadikan warga menjadi sasaran terornya. Namun, pascakejadian tersebut ISIS menyatakan bertanggung jawab atas tragedi itu.

Kelompok radikal itu dengan tak bersalah menyatakan, perbuatan tragis itu sebagai bentuk balasan terhadap kebijakan pemerintah Prancis yang terlibat dalam menggempur Negara Islam Suriah. Sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (15/11), ISIS menyatakan, serangan Jumat malam itu dirancang untuk menunjukkan bahwa Prancis tetap dalam kondisi bahaya selama masih menerapkan kebijakannya.

Lebih dari itu, ISIS juga menyatakan, perbuatan mereka itu untuk mengajari Prancis dan semua negara yang mengikuti jalannya bahwa mereka akan tetap menjadi target utama dalam daftar target ISIS.

Tentu, kita selaku masyarakat antiteror harus mengutuk keras aksi biadab kelompok radikal ISIS yang mengatasnamakan agama tersebut. Aksi itu layak dikutuk karena sangat bertentangan dengan kemanusiaan. Oleh karena itu, ISIS harus diberantas hinga ke akar-akarnya tanpa ampun supaya tragedi serupa tak lagi terjadi di masa mendatang, mengingat kejadian itu bisa saja terjadi di negara mana pun di dunia dimana jaringan ISIS telah ada.

Seperti yang diberitakan di berbagai media nasional maupun internasional, ISIS kini sudah menjalar ke seluruh negara. Tinggal menunggu momentumnya saja, kapan mereka akan melancarkan aksir terornya di negara-negara tersebut. Hal ini sangat mungkin terjadi apalagi cara kerja para teroris itu rapi dan lintas negara. Dengan kesatuan antarjaringan di berbagai negara tersebut, ISIS bisa dengan mudahnya mengancam dan menimbulkan ketakutan bagi seluruh negara di dunia.

Yang pasti, tragedi di Paris mau tak mau membuat kita harus berhati-hati dan tetap siaga setiap waktu untuk mengantisipasi tragedi serupa. Kita tidak boleh lengah karena mereka akan terus mengancam, apalagi pihak ISIS secara gamblang menyampaikan “perang” dan pihaknya akan terus menjadikan Prancis sebagai target utama dalam serangan berikutnya. Bukan hanya Prancis, tetapi juga seluruh negara yang ikut bergabung menggempur ISIS di Suriah dan Irak.

Sesuai laporan dari pihak keamanan negara Prancis, aksi teror yang terjadi di enam lokasi berbeda dan secara beruntun itu sudah terencana sempurna oleh ISIS secara lintas negara dengan bantuan internal. Prancis yang tergolong memiliki sistem pengamanan ketat saja bisa kecolongan seperti itu, apalagi negara-negara dengan system pengamanan yang kurang. Artinya, mengatasi teroris bukanlah perkara yang mudah bagi suatu negara.

Dalam catatan sejarah Prancis, tragedi teror itu bukan yang pertama, tetapi sudah terjadi berkali-kali. Namun, kasus penyerangan pada Jumat malam itu merupakan yang terburuk dimana terjadi di enam lokasi seperti  stadion sepak bola, gedung konser, serta sejumlah kafe dan restoran di utara dan timur kota Paris. Akibat banyaknya korban jiwa, Presiden Prancis mengumumkan bahwa Prancis berada dalam kondisi darurat keamanan.

Untuk itu, kita harus mendukung pernyataan sejumlah kepala negara di dunia untuk bersatu-padu memerangi ISIS. Keberadaan ISIS selama ini sudah begitu banyak menelan korban jiwa secara brutal dan sadis.

Berdasarkan laporan lembaga internasional, ISIS tidak hanya memerangi kelompok minoritas, tetapi juga kelompok seagama mereka yang dianggap tak sejalan dengan ideologi dan ajaran mereka. Mengingat indikasi kelompok ini hampir eksis di semua negara, tragedi di Paris harus kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga. Semua negara harus bekerja sama dan tukar-menukar informasi mengenai aktivitas kelompok tersebut. Dengan demikian, kita berharap, ruang gerak ISIS bisa diminimalisir.

Khusus untuk negara kita Indonesia, kita mesti mendukung aksi kepolisian yang langsung melakukan pengawasan ketat di sejumlah tempat strategis di tanah air, terutama yang berkaitan dengan aset Prancis maupun negara-negara asing lainnya. Upaya pengetatan pengamanan itu merupakan hal wajar dan wajib dilakukan setiap negara karena ISIS sudah menjadi anacaman bagi komunitas internasional.

Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan dan kerja sama yang solid antarnegara di seluruh dunia guna memerangi ISIS. Hal ini mesti dilakukan supaya kelompok radikal itu benar-benar diberantas hingga ke akar-akarnya. Hal ini memang tidak mudah, namun kita harus yakin, kekuatan bersama antarnegara akan bisa melumpuhkan aksi ISIS.


Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar