Oleh: Hasian Sidabutar, S.Pd
Terbit: Malut Post, 18 November 2015
Aksi terorisme kembali mengguncang dunia dan kali ini terjadi di Paris,
Perancis. Serangan tersebut terjadi pada Jumat (13/11) malam akhir pecan lalu.
Serangan itu tidak hanya menimbulkan luka dalam bagi keluarga korban. Kejadian
itu juga membuat seluruh masyarakat dunia berkabung. Aksi teror itu sedikitnya
menewaskan 153 jiwa. Teror kemanusiaan itu merupakan perbuatan brutal, barbar
dan tidak berperikemanusiaan karena telah membunuh ratusan warga yang tak
bersalah.
Para pemimpin dunia pun dengan cepat memberikan dukungan kepada
Prancis dan berjanji akan membantu
negara itu dalam menghadapi persoalan-persoalan seputar teror yang mereka
alami. Dalam berbagai kesempatan. Para pemimpin itu juga menyampaikan rasa
belasungkawanya atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedy itu.
Perbuatan teroris yang mengklaim dirinya sebagai organisasi radikal
Islamic State of Iraq and Syria alias ISIS tersebut telah menimbulkan kemarahan
dan kecaman masyarakat dunia. Seluruh negara kini semakin bersatu hati mengecam
aksi biadab para teroris itu karena tindakan brutalnya tidak bisa ditoleransi
sama sekali dengan alasan apapun. Perbuatan itu tak bisa diterima dunia karena
serangan penembakan dan pengeboman yang membabi buta menewaskan warga tak
bersalah.
Masyarakat yang menjadi korban penembakan dan ledakan bom itu tak
seharusnya meninggal atau mati sia-sia akibat perbuatan orang biadab. Sampai
saat ini, kita belum tahu apa alasan ISIS menjadikan warga menjadi sasaran
terornya. Namun, pascakejadian tersebut ISIS menyatakan bertanggung jawab atas
tragedi itu.
Kelompok radikal itu dengan tak bersalah menyatakan, perbuatan tragis itu
sebagai bentuk balasan terhadap kebijakan pemerintah Prancis yang terlibat
dalam menggempur Negara Islam Suriah. Sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (15/11),
ISIS menyatakan, serangan Jumat malam itu dirancang untuk menunjukkan bahwa
Prancis tetap dalam kondisi bahaya selama masih menerapkan kebijakannya.
Lebih dari itu, ISIS juga menyatakan, perbuatan mereka itu untuk
mengajari Prancis dan semua negara yang mengikuti jalannya bahwa mereka akan
tetap menjadi target utama dalam daftar target ISIS.
Tentu, kita selaku masyarakat antiteror harus mengutuk keras aksi biadab
kelompok radikal ISIS yang mengatasnamakan agama tersebut. Aksi itu layak
dikutuk karena sangat bertentangan dengan kemanusiaan. Oleh karena itu, ISIS
harus diberantas hinga ke akar-akarnya tanpa ampun supaya tragedi serupa tak
lagi terjadi di masa mendatang, mengingat kejadian itu bisa saja terjadi di
negara mana pun di dunia dimana jaringan ISIS telah ada.
Seperti yang diberitakan di berbagai media nasional maupun internasional,
ISIS kini sudah menjalar ke seluruh negara. Tinggal menunggu momentumnya saja,
kapan mereka akan melancarkan aksir terornya di negara-negara tersebut. Hal ini
sangat mungkin terjadi apalagi cara kerja para teroris itu rapi dan lintas
negara. Dengan kesatuan antarjaringan di berbagai negara tersebut, ISIS bisa
dengan mudahnya mengancam dan menimbulkan ketakutan bagi seluruh negara di
dunia.
Yang pasti, tragedi di Paris mau tak mau membuat kita harus berhati-hati
dan tetap siaga setiap waktu untuk mengantisipasi tragedi serupa. Kita tidak
boleh lengah karena mereka akan terus mengancam, apalagi pihak ISIS secara gamblang
menyampaikan “perang” dan pihaknya akan terus menjadikan Prancis sebagai target
utama dalam serangan berikutnya. Bukan hanya Prancis, tetapi juga seluruh
negara yang ikut bergabung menggempur ISIS di Suriah dan Irak.
Sesuai laporan dari pihak keamanan negara Prancis, aksi teror yang
terjadi di enam lokasi berbeda dan secara beruntun itu sudah terencana sempurna
oleh ISIS secara lintas negara dengan bantuan internal. Prancis yang tergolong
memiliki sistem pengamanan ketat saja bisa kecolongan seperti itu, apalagi
negara-negara dengan system pengamanan yang kurang. Artinya, mengatasi teroris
bukanlah perkara yang mudah bagi suatu negara.
Dalam catatan sejarah Prancis, tragedi teror itu bukan yang pertama,
tetapi sudah terjadi berkali-kali. Namun, kasus penyerangan pada Jumat malam
itu merupakan yang terburuk dimana terjadi di enam lokasi seperti stadion sepak bola, gedung konser, serta
sejumlah kafe dan restoran di utara dan timur kota Paris. Akibat banyaknya
korban jiwa, Presiden Prancis mengumumkan bahwa Prancis berada dalam kondisi
darurat keamanan.
Untuk itu, kita harus mendukung pernyataan sejumlah kepala negara di
dunia untuk bersatu-padu memerangi ISIS. Keberadaan ISIS selama ini sudah
begitu banyak menelan korban jiwa secara brutal dan sadis.
Berdasarkan laporan lembaga internasional, ISIS tidak hanya memerangi
kelompok minoritas, tetapi juga kelompok seagama mereka yang dianggap tak
sejalan dengan ideologi dan ajaran mereka. Mengingat indikasi kelompok ini
hampir eksis di semua negara, tragedi di Paris harus kita jadikan sebagai
pelajaran yang berharga. Semua negara harus bekerja sama dan tukar-menukar
informasi mengenai aktivitas kelompok tersebut. Dengan demikian, kita berharap,
ruang gerak ISIS bisa diminimalisir.
Khusus untuk negara kita Indonesia, kita mesti mendukung aksi kepolisian
yang langsung melakukan pengawasan ketat di sejumlah tempat strategis di tanah
air, terutama yang berkaitan dengan aset Prancis maupun negara-negara asing lainnya.
Upaya pengetatan pengamanan itu merupakan hal wajar dan wajib dilakukan setiap
negara karena ISIS sudah menjadi anacaman bagi komunitas internasional.
Penulis adalah Anggota Initiatives of Change (IofC) Indonesia dan Alumnus Universitas Negeri Medan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar